Monday, April 11, 2011

Sekeranjang Bahagia


Pulang membawa sekeranjang bahagia. Menjemputnya di depan pintu dengan senyum simpul. Kebahagiaan adalah esensi manusia rasional. Tapi kebahagiaan yang hendak kita cari apa ? itulah yang ingin saya katakan, meminjam bahasa dalam film The Pursuit of Happiness (2006), “...that maybe happiness is something that we can only pursue and we can actually never have it no matter what...”, kebahagiaan adalah berlari, bagaimanapun caranya. Tak heran jika mengejar kebahagiaan dengan menyebut “episode”, Crish Gardner (Will Smith) selalu menyebut itu. “Naik bus”, “Berlari” dan sampai pada titik akhir “Bahagia”.

Kebahagiaan adalah episode kehidupan, proses perjuangan tanpa mengenal kata “lelah”. Mengejar bukanlah arti berlari yang sesugguhnya, mengejar adalah usaha mencapai “bahagia”. Kebahagiaan adalah absurditas yang kita coba daku, semakin mengejar arti bahagia itu maka semakin menjauh (Kebahagiaan hakiki yang dimaksud). Entahlah, karena letak kebahagiaan itu di hati bagiku. Orang makan dengan apa yang tersedia di hadapannya bisa juga di kata bahagia.
Demikian juga dengan orang bahagia ketika apa yang dia inginkan dapat di beli. Kebahagiaan tak mengenal kata banyak, namun memiliki arti cukup, tidak lebih tidak pula kurang.

Konon, orang Denmark adalah orang-orang yang paling bahagia di dunia, resepnya hanya satu, merasa bahagia apa yang ia miliki. Tentu tak mudah melakukan itu. Tapi itulah konstruksi bahagia orang Denmark. Semua orang terlihat bahagia. Lain lagi dengan orang Jogja (jawa), merasa bahagia dengan berkumpul, mangan ora’ mangan sing penting ngumpul. makan tidak makan yang penting kumpul.

Banyak defenisi, ungkapan dan cara merayakan kebahagiaan. Jika harus memilih, saya memilih kebahagiaan dengan menghargai hidup. Karena kebahagiaan adalah di beri kesempatan hidup. Bagemana dengan anda ?
Share:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...