Thursday, April 7, 2011

Hidup di Zaman Kekerasan


Masyarakat kita sekarang hidup di zaman kekerasan. memandang realitas, kekerasan menggejala dimana-mana, menguras energi yang mewujud pada kekerasan fisik, juga psikologis. Saban hari di media (cetak dan elektronik) kini banyak bermuatan berita kekerasan. Di keluarga terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan antar pendukung pilkada, kekerasan antar mahasiswa, kekerasan antar suporter bola, kekerasan antar keyakinan, kekerasan antar kampung sampai kekerasan yang melibatkan negara.

Gandhi mengingatkan kekerasan adalah tanda akhir dari peradaban manusia. Namun anehnya sebagian kita suka dengan kekerasan. Kekerasan sering terjadi namun sedikit nada untuk membuka ruang diskursus (jika boleh di kata tidak ada) yang hadir di warung kopi, sekolah, hingga kampus. Padahal kekerasan menjadi arena yang selalu hadir disetiap ruang.

Kekerasan walaupun hidup dengan manusia namun untuk mengartikan kekerasan meninggalkan banyak pertanyaan sehingga menjawabnya pun sulit. term ini tumbuh dan berkembang di masyarakat baik desa maupun kota, baik berskala kecil maupun besar. Tak dapat terhitung lagi berapa kerugian materi dan non-materi akibat kekerasan. Memori kolektif belum hilang ketika kekerasan terjadi di kampus, sebagai misal. Kerugian tak bisa dibilang sedikit.

Untuk hal ini kekerasan lahir ketika show of force (penunjukkan kekuatan). Kekerasan selalu menunjukkan kekuatan (massa, senjata). Adalah Hannah Arendt yang memasuki arena kekerasan sebagai subjek utama. Filsuf Amerika kelahiran Jerman ini memberi pemahaman bahwa kekerasan itu tidak pernah bisa legitim namun kadang dibenarkan, kekerasan yang dibenarkan jika, pertama, kekerasan sebagai respon ketidakadilan, kedua, kekerasan dibenarkan jika memungkinkan membuka ruang politik.

Kekerasan terjadi menurutnya karena manusia kehilangan rasionalitasnya (irrasional). Sederhanya, manusia melakukan kekerasan jika kehilangan cara berfikir jernih yang mengakibatkan manusia kehilanghan kendali dan akhirnya emosional. Beragam bentuk kekerasan dalam masyarakat, mulai teror, konflik komunal, diskriminasi, bahkan kekerasan penguasan (pemerintah) pada rakyatnya. Walau kekerasan abad ini tidak lebih besar dari zaman penjajahan di Indonesia beberapa abad silam (Belanda dan Jepang), kemudian berlanjut hingga orde baru, namun kekerasan seolah-olah menjadi jalan keluar masyarakat yang katanya ramah, santun dan berbudaya.

Krisis Solidaritas

Boleh dikata, krisis solidaritas terjadi karena globalisasi. Paradoks yang dibawanya menghilangkan sisi manusia memandang dunia yang lain. Ruang-ruang sosial menjadi sempit dan melahirkan segregasi yang berbasis etnisitas, dan identitas kelompok. Cara pandang “insider” dan “ousider” selalu hadir dalam sentimen berdasarkan identitas.

Pesona globalisasi telah diikuti dengan nilai-nilai yang memudar. Paling tidak nilai humanisme terganti menjadi dehumanisasi. Globalisasi disatu sisi memang dirayakan, namun disisi lain harus ditangisi, paling tidak pemaknaan atas relasi-relasi sosial yang merenggang. Hal ini bukan tanpa sebab karena globalisasi telah memasuki ruang-ruang yang jauh di masyarakat yang dulunya dianggap “terlarang” semisal seni, budaya, norma dan cara hidup masyarakat.

Bersangkut dengan globalisasi itu, beberapa hal mengapa kekerasan terjadi, pertama, perkembangan manusia ditandai dengan sikap dilema dalam hidup. Mengutip pemikir Edwar Said, dalam tesisnya Orientalisme (2010), menyinggung bahwa perkembangan manusia tengah dilanda oleh kegagalan dan frustasi. Dewasa ini dalam konteks ber-masyarakat terjadi ketidakpastian dalam kondisi sosial, ketimpangan ekonomi serta pereduksian pemaknaan agama, identitas yang akhirnya memicu kekerasan.

Kedua, jika negara dan perangkat-perangkatnya gagal melindungi rakyat. Lemahnya negara juga diikuti dengan menguatnya gerakan-gerakan radikal yang akhirnya menimbulkan kekerasan. Kondisi ini telah membuka kesadaran sekaligus respon atas globalisasi. Kondisi ini disebut meminjam istilah Sindhunata, dilema globalisasi.

Ada orang yang mengatakan prilaku kekerasan dekat dengan kebodohan (sebagai catatan, kebodohan tidak diidentikkan dengan rendahnya pendidikan), karena kekerasan terjadi ketika manusia kehilangan kecerdasannya. Walau istilah itu terkesan sarkastik, hal ini bisa menjadi konfimasi betulkah kita tidak cerdas sehingga mau saja melakukan kekerasan ?.

Share:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...