Friday, April 1, 2011

Bunuh Diri & Autisme Sosial


Kompas edisi rabu, kamis, dan jumat menyajikan berita tentang bunuh diri dengan motif beragam. Berita yang tersaji berturut-turut. Dalam tulisan itu muncul keinginan untuk mencoba memberi sedikit pengamatan dari sudut pandang sosiologis. Bunuh diri sebagai fakta sosial tak bisa bisa berdiri sendiri. Bunuh diri tidak hanya sekedar pengaruh dari faktor psikologis namun fakta lain juga bisa memperngaruhi, faktor antropologis misalnya, peristiwa Kamikase dari tentara Jepang pada saat menyerang Pearl Harbour tak bisa dibilang bunuh diri biasa. Sama halnya dengan Harakiri. Selain itu faktor ideologis juga mempengaruhi misalnya bom bunuh diri (suicede bom).

Namun karena pemahaman saya hanya terbatas pada Sosiologi maka saya hanya mencoba memberi sumbangan pemikiran dari sudut pandang Sosiologis walau saya bukan ahli tapi hanya pembelajar. Salah seorang pemikir perancis Emile Durkheim menjelaskan tentang bunuh diri sebagai fakta sosial yang diakibatkan beberapa hal. Dalam tesisnya dijelakan bahwa bunuh diri dipengaruhi antara lain : Secara sosiologis, meminjam konsep Durkheim antara relasi sosial yang berkembang-Anomi karena perkembangan teknologi informasi dan teknologi yang membuat orang (terkadang) egois. tak lagi solider dengan lingkungan sekitar. Individualistis, peran agama mulai berkurang karena pengaruh media. Media memenjara kesadaran individu. Mungkin kasuistik, kehidupan desa orang jarang melakukan bunuh diri daripada kota. Solidaritas sosial mekanik pun tumbuh. Untuk memberikan ketenangan batin dengan cara gantung diri, soldaritas itu tidak adalagi. Konteks global pun tidak bisa dilepaskan akan mempengaruhi anomi.

Autisme Sosial.

Sekarang media menjadi tirani baru. Orang tekunkungkung dalam sangkar besi, berjam-jam menatap monitor, senyum sendiri dank akhirnya menjadi autis. Autisme sosial menghinggapi sekarang. Saya dan beberapa tetangga kamar saya seakan mengalami hal itu, autisitas dalam hidup telah menggejala dan akhirnya jarang lagi menyapa face to face. Bertemu hanya di ruang maya setelah itu sibuk dengan dunia masing. Dunia realitas yang dibuat media (facebook, twitter dan media maya lainnya) menggantikan realitas yang seharusnya.

Share:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...