Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Masyarakat tanpa Peradaban


Sebuah peradaban yang perlahan hancur, demikian kutipan Kompas (27/3/2011), edisi minggu ini menyitir kondisi pusat dokumentasi sastra yang merentang dari Jakarta hingga Bali yang perlahan-lahan menuju kehancuran. Masih segar dalam ingatan kondisi pusat dokumentasi sastra (PDS) HB Jassin masih tertatih akibat kekurangan dana perawatan dari pemerintah. Kondisi ini menjalar kekebarapa daerah di Indonesia, ibarat puncak gunung es, kondisi ini hanya sebagian kecil dari banyak pusat dokumentasi yang tak terurus.

Media nasional itu menyinggung kondisi tak terurus merentang dari Makassar, Kendari, Yogyakarta hingga Bali, tidak berbeda jauh dari kondisi pusat dokumentasi HB Jassin, perpusatkan yang menyimpan banyak karya sastra perlahan-lahan menuju kehancuran akibat minimnya dana perawatan.

Bangsa yang hebat adalah bangsa yang memiliki peradaban. Dan peradaban lahir salah satunya melalui karya sastra. Peradaban tumbuh melalui seni dan sastra, lihat China, India, Jepang dan bangsa Eropa lainnya adalah bangsa yang menghargai sastra. Melapuknya semangat menjaga karya sastra akan melahirkan masyarakat tanpa sastra, masyarakat tanpa peradaban. (Semoga saja tak terjadi demikian).

Sungguh, ironis melihat kenyataan yang ada ketika perpustakaan yang menyimpan karya sastra tak ternilai harganya menuju kehancuran. Kehidupan masyarakat tanpa sastra ibarat masyarakat yang tak jelas asal-usulnya.

Jika Pusat Dokumentasi HB Jassin saja tidak terurus, bagaimana dengan kondisi pusat dokumentasi yang tersebar di daerah lain ?. lantas, jika hancur, kita akan mencari referensi sastra dimana lagi ? haruskah kita terbang ke Belanda yang banyak memindahkan dan rela menyimpan karya sastra Nusantara, ataukah ke Malaysia mencari referensi ? apa kata Malaysia ?

Pengumpulan #koinsastra melalui jejaring sosial mungkin bisa menjadi salah satu cara menyelamatkan dokumentasi sejarah sastra dari kehancuran. Sebuah gerakan meminjam istilah Muhidin M Dahlan, “Gerakan Niratha” agaknya bisa digiatkan di daerah lain untuk menyelamatkan peradaban.

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga untuk sahabat yang berkenan menuliskan komentar kritisnya...salam bahagia