Tuesday, March 1, 2011

Jendela


Bagi rumah, jendela adalah ruang kehidupan. Ditempat inilah udara segar memenuhi beranda. Celah kecil ini terbuat dari kayu, tempat melihat semesta atau melihat bunga-bungan mekar di taman. Ruang kecil ini adalah jalan lain bertamasya dibalik kesunyian. Cukup membuka daun jendela atau tirai, membalikkan kaca, angin berdesing menyeruak dan berhamburan mengisi kekosongan kamar. Mengobati yang kekekeringan jiwa dan pikiran. Ketika sepi didalam ruang, jendela adalah tempat membuka dunia itu. Memandang lintas lengkung warnawarni pelangi dibalik bingkai kayu. Memandang selepas samudra. Lepas memandang cakrawala.

Dulu, ketika belum memakai jeruji, jendela menjadi cara untuk berinteraksi, sekat-sekat besi tempat para manusia dulu saling menyapa di balik jendela di rumah panggung. Berkomunikasi tanpa batas, tanpa penghalang besi dan keangkuhan. Walau kini jendela-jendela itu tampak angkuh, selalu tertutup dan tak menampakkan lagi wajah yang selalu tersenyum simpul pemiliknya di balik tirai putih. Saya selalu ingat, ketika di kampung. Rumah panggung dengan beberapa jendela tanpa jeruji selalu menantikan angin menyapu dengan lembutnya ketika sore beringsut malam. disitulah saya memandang hidup orang-orang kampung, tepat di celah kayu itu.

Kita akan bersandar pada suatu nanti pada bingkai kayu itu. Atau menoleh pandang diantara jala-jala besi pembawa kesejukan. Angin bertiup memberi nuansa damai sampai kedasar terdalam hati manusia. penuh ketakziman.

Jogja 010311
Share:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...