Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Istana Pasir


kembali mengingat Istana pasir di tepian pantai. Bermodal sekop plastik, kebokan sabun wings dan kerang-kerang. Kita merajutnya, merangkai dan membangunnya bersama. Istana pasir itu berdiri kokoh, setiap sisi dikelilingi empat menara pengintai dan parit pelindung mengeliling satu istana.


Kau seolah-olah hidup seperti Alice in Wonderland. Di negeri Underland itu semua yang hadir hanya fantasi. Dan kaupun larut dalam fantasi dari istana pasir yang kau rajut itu Nayla.

Istana itu terlihat terlihat kokoh tapi sebenarnya rapuh, hempasan ombak dengan sekali hantaman meruntuhkan rumah pasir itu. Kau akan ingat itu Nayla ketika dengan nada kecewa kau melemaskan tubuh dan mengeluarkan sumpah serapah. Tentu kau kecewa!, dengan susah payah, berpeluh kau rajut istana pasirmu. Merangkai satu demi satu hingga berbentuk seperti istana kerajaan abad-17 di Eropa. Diorama istana pasir aku menyebutnya.

Kegembiraan hanya sesaat, ketika tak menyadari ada kesedihan yang ikut menemani hidup kita. Terlalu naif untuk kau mengharap kepastian. Penderitaan dan kebahagiaan adalah entitas yang hidup pada umat manusia. Untuk saat ini kau tak berniat untuk sedih. Begitu juga aku, tapi ketahuilah kesedihan datang memang tanpa permisi. Karna itu kau harus siap. Seperti istana pasir itu. Gelombang tak perlu meminta ijin untuk merebos masuk ke benteng kemudian mengempaskan istana pasirmu menjadi puing-puing.

Tapi di setiap pantai, juga di pantai bersih sekalipun, orang harus memilih. Demikian ungkapan Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir.

Ruang untuk membangun istana pasir itu terlalu dekat dengan bibir pantai, ombak yang menderu-deru seperti pesawat tempur yang siap menghujam sasaran. Istana pasir yang (terlihat) kokoh namun (sebenarnya) rapuh tak mampu menahan gelombang sedshyat itu Nayla. Kau akan tahu jika berada di sisi Samudera Hindia. Ombaknya sungguh deras dan gemuruhnya memekakan telinga.

Kau harus memilih ruang dan waktu yang tepat untuk membangun istana pasir.

Untuk saat ini kita harus merapat pada Filsafat Kant, ruang dan waktu ada sebelum kita ada.tanpa manusia ada, ruang dan waktu tetap ada. Meskipun kita merapat pada Kant, tak ayal jika melupakan Hegel dalam konsepnya, Tesis-Antitesis-Sintesis. Hegel mengungkapkan “auffheben” (mengangkat) seperti dikutip Paul Budi Kleden.

Saatnya kau mengangkat puing-puing itu, merajutnya, menganyamnya, merangkainya menjadi satu kembali.

Saya mengutipkan untukmu Paul Budi Kleden, dengan mengutip Hegel, maka suatu kesalahan besar jika individu mementingkan kebahagiaan, yang penting adalah membangun tatanan sosial (sosial order) bukan kebaikan dan kebahagiaan individu.

Kau dan aku akan merajut kembali puing-puing itu yang berserakan itu menjadi istana pasir.

Jogja, 190311

Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...