Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Duka yang abadi

Malam ini Jumat, 10 Maret 2011 telinga kiri berdengung kencang. Entah saya percaya mitos atau tidak. Dengungan telinga kiri, bagi orang di kampung saya hal itu bisa menjadi petanda bencana atau musibah. Tapi bagaimana peristiwa itu datang pada saat yang bersamaan. Antara dengungan telinga kiri dan berita duka yang berangkai. Di kampung jauh, di Jeneponto, Anto' (nenek saya) Karaeng Naba meninggal, belum kering air mata datang lagi kakak ipar saya di Kendari kecelakaan. Betapa dunia seakan-akan runtuh. Kakipun tak sanggup lagi menahan tubuh, lunglai. Rebah dan tak memiliki daya untuk bangkit lagi tubuh ini.

Sebenarnya saya ingin meratap, tapi itu tak mungkin, selain saya laki-laki, juga dalam kepercayaan saya yang Islam (pesan Rasulullah Muhammad saw) dilarang untuk meratapi kematian seseorang. Betapa sulitnya malam ini. Saya tak hanya mampu untuk meratap tapi tak mampu juga untuk membaca lagi seperti kebiasaan tiap malam. Membaca beberapa helai buku.

Kematian, duka dan bencana adalah bagian hidup manusia yang tidak terpisahkan. Di balik kebahagiaan juga tersimpan duka, dalam kehidupan ada kematian yang setiap saat manusia mengalaminya. Kehidupan adalah misteri begitu juga kematian itu.

Malam ini, hujan perlahan-lahan menemani duka saya. Remuk redam kedasar duka yang paling dalam. saya tak mampu bagemana harus mengeluarkan air mata ini. Menahannya untuk pecah pun tak sanggup malah membuat hati sesak. Tapi bagaimana pun saya harus kuat (dan itulah laki-laki) pantang untuk mengeluarkan air mata.

Duka yang abadi. Terlalu cepat untuk merasa ber-duka, terlalu awal menyimpulkan untuk larut dalam kedukaan ini. Saya pernah membaca buku Membongkar Derita (teodice) karya Paul Budi Kleden, yang menurutnya penderitaan harus direfleksikan dengan berfikir. Refleksi ini ibarat penyadaran hakikat manusia dalam penyusuran titian kayu, sebuah jembatan darurat. Begitu menurutnya.

Saya harus merasionalkan ke-duka-an ini walau sulit. Namun pasti menemukan jalan daru titian kayu dan jembatan darurat itu untuk keluar dari masa suram.

Tak mampu melepasnya
Walau sudah tak ada
Hatimu tetap merasa
masih memilikinya

Rasa kehilangan
hanya akan ada
Jika kau pernah
merasa memilikinya

Pernahkah kau mengira
kalau dia kan sirna
Walau kau tak percaya
dengan sepenuh jiwa

Rasa kehilangan
hanya akan ada
Jika kau pernah
merasa memilikinya. Letto, memiliki kehilangan

Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...