Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Rumah Itu bernama Ramsis (kenangan yang hilang)

Catatan ini sebenarnya sudah lama, ketika membuka jejaring sosial friendster (yang dulu booming) terselip catatan yang membuat saya kembali merindukan rumah kedua, ya, rumah kedua itu bernama Ramsis (asrama mahasiswa) UNHAS. Detik-detik penggusuran waktu itu masih segar dalam ingatan. saya ingat waktu itu ketika detik-detik penggusuran warga Ramsis tahun 2006 (untung bagi saya yang sudah wisuda di menit menit akhir penggusuran jika tidak mungkin tidak ditandu ke Baruga :))...Catatan yang tertinggal waktu di Ramsis itu saya himpun kembali sebagai kenangan...jika rindu tentangnya maka saya membacanya lagi....selamat menikmati

***

Suasana gembira datang ketika Italia, tim favorit saya melenggang ke Final Piala Dunia 2006. Namun, tiba tiba saja kegembiraan itu hilang dengan cepat karena kehadiran sosok yang asing bagiku. Terdengar alur yang begitu cepat dengan nada yang sedikit meninggi “itu ramsis akan di gusur”. Terdengar samar-samar memang karena dia tergopoh-gopoh. Namun aku masih dapat mendengarkan dari mulut orang asing itu yang perawakannya seperti anak seberang blok asrama. Tidak jauh, kira-kira dua ratus meter. Terdengar sedikit membisik dan sembunyi-sembunyi, takut ketahuan!. Entah apa yang di takutkan, tapi dari mulutnya hanya terdengar lirih.

“Ramsis akan digusur bulan depan, dimana maki cari pondokan?”.

Orang itu dengan perawakan sedikit brewok, celana levi’s sobek, memakai sandal jepit butut (mungkin pinjaman juga). Membuka pembicaraan ditengah keramaian menonton piala dunia jerman 2006.

Mendengar celoteh dari orang tak jelas itu, pertama tidak dihiraukan tapi aku menjadi semakin penasaran, orang disekitarku cuek saja, tak menghiraukan. mungkin larut dalam pertandingan seru antara Jerman-Italy. Tapi aku masih dapat menyimak celoteh dari orang asing itu, dalam hati berkata. “apakah memang inilah akhir dari perjalanan selama kuliah lima tahun dan kebahagiaan juga akan berakhir bersama teman-teman asrama. Akankah hanya sampai saat ini, malam ini, bulan ini dan tahun ini, sesingkat inikah kebahagiaan di asrama yang sudah terajut lama?” pikirku jauh menerawang…..sangat jauh mimpiku….jauh pikiranku…..sangat jauh.

Toh, jika memang benar. Maka Ramsis akan aku tinggalkan, aku harus melepas kebahagiaan bersama teman-teman menikmati embun pagi, menanti senja disore hari dan menikmati malam yang terus meringsut sampai kumandang adzan. Ya, seperti ini kebiasaan setiap malam kalo libur, begadang ria. sebenarnya berat hati meninggalkan rumah keduaku. Sebenarnya tidak ikhlas melepas auranya yang selalu tersenyum dikala pulang kuliah, berbaring di kasur setebal 30 centi, wangi Stella all in one menari sahdu di seka kipas angin, di ninabobokkan dekstop dengan speaker simbadda CST 5000, ditemani alunan cahaya mata dari padi band, ooh, alangkah sempurnanya kehidupan.

Ramsis rumah keduaku. Ramsis rumah pertamaku di perantauan. Aku menyebutnya rumah karena suasana yang hadir seperti rumah yang dikampung, bersahaja, ramai, bersahabat dan dipenuhi tanaman yang selalu mekar dikala musim berganti. Bunga november berwarna merah muda yang selalu menguncupkan kelopak di bulan november dan desember, bunga ki Hujan merah cerah, dan bunga melatiku yang setiap malam semerbaknya selalu ada menemani malam.

Hampir satu jam aku larut dalam pembicaraan mengenai ramsis, antara percaya dan tidak Ramsis yang kata orang luar begitu kumuh, jorok, bahkan angker sesaat lagi akan berubah wajah dengan warna-warni dalam dan luar dinding, belum lagi furniture yang bermerek. “Ah…tidak mungkin” kembali rasa tidak percaya itu datang. Nelangsa….jauh mimpiku!.

Mengenang ramsis dan rumah keduaku seperti semasa kuliah adalah kenangan yang tak mudah kulupakan, terlebih bagi yang masih kuliah. untung diriku sudah bertitel sarjana. tapi bukan itu yang susah hilang. yang terpikir, masih bisakah saya dan mereka yang dulu tinggal lagi setelah ramsis direnovasi. Adakah jaminan?, tapi bukankah kemenangan itu hanya hadir pada penguasa?, bukankah keadilan hanya ada ditangan penguasa!. Apa daya, aku hanya mencari tau apa yang akan terjadi nanti kedepan. Bukankah yang sekarang hari ini adalah realitas, esok lusa masih hanya sebatas mimpi. Tapi mimpi saya semoga tak nyata 

“RAMSIS HANYA UNTUK GOLONGAN ORANG KAYA, YANG BISA TINGGAL ADALAH YANG BISA MEMBAYAR RP. 200.000/BULAN”. 
TTD

PENGELOLA  

Panplet itu yang ada dalam lamunan, Semoga tidak benar adanya. Bagi kami anak Ramsis Makan aja susah apalagi bayar perbulannya seharga itu…lama-lama tidak kuliah gara-gara bayar Ramsis. 

*
Ada yang hilang lagi adalah Angkat Tandu sebagai tradisi feodal yang masih ada di Ramsis, Turun temurun bagi yang wisuda akan diangkat dengan tandu masuk ke Baruga Andi Pettarani. Dengan yel-yel nya yang terkenal: Anaknya Rektor dan Air-air. Maklum Anak Ramsis seperti Anak (yang tak terurus oleh kampus) dan Air adalah ekspresi bagaimana sulitnya mendapatkan air di Asrama, Air seperti emas bagi kami. Ada juga jadwal berkunjung ke putri (off the record pastinya..ssst). ini bagi senior dan super senior. Bagi yang junior harus tahu nomor induk atau tahun masuk di Ramsis. Ada juga acara makan gratis ketika acara wisudawan (itung-itung perbaikan gizi), Bermain bola. Anak Ramsis paling top bermain Bola. 

Masih akankah ada seperti itu? Akan ada yang hilang, itu semua pasti hilang jika penghuninya tidak kembali. Mungkin saja begitu.

Sulit untuk kuraih kenangan selama lima tahun itu, mungkin kenangan Ramsis…rumah ….kenangannya akan menjadi kenangan terindah…wah kaya lagu Samsons aja, Pikirku. Tapi ada benarnya juga lagu itu. Ramsis seakan menjadi cinta sejati, kenangan terindah dari waktu kewaktu yang selalu terukir menjadi satu kenangan. kenangannya akan hilang bersama kepergianku ke kampung halaman. Susah memang ukiran Ramsis dari perasaan yang sudah larut bersama keceriaan di tempat itu. Sangat sulit memang kulupakan terlebih berpisah teman asrama…ahh rinduku, sedihku. Ternyata benar juga kata orang “indahnya kebersamaan terasa di saat ada perpisahan”, tapi bukankah perpisahan itu bukan akhir dari segalanya. Perpisahan kan sisi lain dari pertemuan, mengapa aku harus sedih ya! Terlalu sulit mengungkapkan bahasa hati ini….hal tersulit gumamku dalam hati.

Sunyi terasa saat teman-teman sudah mengemas barang, esoknya seperti akan pergi jauh melambaikan tangan perpisahan dengan senyum pengharapan. Iba hati ini, aku sedih untuk mereka yang tidak memiliki keluarga, dimana mereka akan tinggal..,Mungkin saja aku larut dalam kesedihan yang amat dalam karena berpisah dari kenangan yang entah kapan seperti itu lagi…mengenang semua itu adalah hal tersulit bagiku. Ramsis begitu hidup

Mungkin sebagian orang, Ramsis adalah Asrama tempat menginap saja tidak lebih, Tempat melepas singgah, asrama kumuh yang tak terurus, yang bertahun tahun tak berganti cat, sarang mafia, Dosenku yang killer pernah bertutur bahwa Ramsis adalah paria bagi Unhas dan sarang pemborosan. ada benarnya, tapi tidak semua benar. tak perlu lebih jauh sinismenya disingggung disini. Namun, untuk penghuninya, seperti diriku. Ramsis adalah rumah dengan keluarga yang bersahaja, Ramsis adalah rumah yang memiliki kepala rumah tangga, ketua RT. Ramsis punya mace’ yang selalu memberikan tangan halusnya menyuci pakaian kotor, ibu binatuku, Ramsis punya restroran Ones, kantin unit 2, Ma Tina, apa yang tidak ada disini, semua ada!. Ramsis juga punya warung makan dengan harga sesuai kondisi anak Ramsis terutama unit 2, Ma’ Ical nama warungnya.

Ramsis seperti rumah yang memberikan keteduhan setiap waktu, memberikan inspirasi di saat malam menemani kesunyian setiap penghuninya.

Walaupun nanti hilang, Ramsis adalah Rumahku. Rumah yang tak tergantikan selama kuliah dan mungkin sampai nanti. Jika dia hilang, dia akan menjadi rumah mayaku…rumah mimpi. Rumah kenangan yang akan selalu ada. Aku merindukan Ramsis akan seperti dulu. Aku ingin terjaga seperti dulu, bermain game jaringan counter strike, cossack; back to war, sharing film lewat LAN. Aku ingin menikmati Ramsis seperti dulu, puasa bersama, nonton bola, ke pintu dua

Aku rindu calla-calla ana’-ana’, rindu teriakan yang membahana seakan membangunkan satu Ramsis, rindu ajakan ke pintu dua. Minum sara’ba’, ubi dan pisang gorengnya. Saya rindu adik-adikku, Sampara dengan nasi dua ribunya, yaya’ dengan nasi kuningnya, Rahim (dan Dia sekarang sudah Sarjana. dan telah bertemu di Kendari) dengan suara kemayunya menjajakan nasi. Aku rindu kalian.

Ternyata celoteh orang asing itu benar, Ramsis telah di Gusur!!!
Semoga, Saat Terbangun, Ramsis seperti dulu, tidak berubah.

Disaat waktu-waktu tengah senyap

Antara Ramsis dan Kampung
Tamalanrea, 13 Juli 2006
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

2 comments:

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...