Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Manusia Itu Bersaudara

Ketika manusia sesama (beda) keyakinan saling menumpahkan darah, maka yang tersisa hanya penyesalan dan air mata. Saya ingat ketika berkunjung di daerah yang pernah menjadi daerah konflik, Ambon. Saya bertanya pada salah seorang warga bahwa setelah konflik SARA (walaupun istilah ini dipolitisir menurutnya) bahwa konflik tak ada yang diuntungkan baik golongan Nasrani maupun Muslim, kalopun ada hanya segolongan elit saja, namun masyarakat kecil tak mendapatkan apa-apa selain penyesalan dan air mata : Kehilangan rumah, keluarga dan mata pencaharian.

Kondisi ini terjadi pada pengikut Ahmadiyah. Setara Institute mencatat, pada kurun 2008-2010, ada 276 kali aksi kekerasan atas Ahmadiyah. Terbanyak pada 2008, 193 kasus, atau 73 persen total kekerasan atas kaum minoritas di tahun itu. Pada 2009 dan 2010, Ahmadiyah diganyang sebanyak 33 dan 50 kali. Dikutip (http://sorot.vivanews.com/news/read/204268-ahmadiyah--darah-dan-ibadah diakses 15/02/2011).

Sebagai manusia ketika nilai-nilai universal dihilangkan yang terjadi adalah dominasi dari mayoritas ke minoritas. Akar kekerasan selalu dimulai dari mayoritas di negeri ini. Itu memang benar dominasi mayoritas. Sedangkan suara-suara tangis minoritas menjadi hilang. Lantas negara dimana saat dibutuhkan ?

Nilai etis pemimpin besar Rasulullah Muhammad Saw, ketika memasuki Ka’bah dari hijranya di Madinah mengharamkan adanya pertumpahan darah, malah kaum Yahudi yang dulu membencinya dimintanya untuk membuka pintu saat berita kedatangan Nabi sang pembawa risalah-Rasulullah bukan pendendam, manusia berbudi luhur yang pernah dilahirkan di bumi.

Sosok yang lain datang dari India, Mohandas Karamchand Gandhi, singkatnya Gandhi dalam sebuah bukunya (terj.2009) all man are brothers-semua manusia bersaudara dalam bagian agama dan kebenaran mengungkapkan agama menurutnya tidaklah dipahami secara formal, atau adat, melainkan sesuatu yang mendasari semua agama yang akan membawa kita bertemu muka dengan sang pencipta. Pada kesimpulannya Gandhi pun berujar bahwa, 1. Semua agama itu benar; 2. Semua agama itu memiliki beberapa kesalahan didalamnya; 3. Semua agama itu bagi saya sama berharganya sebagaimana agama saya sendiri yaitu Hindu, sebagaimana halnya setiap manusia itu seharusnya saling menghargai seperti sanak saudara sendiri. Penghormatan saya sendiri terhadap agama lain adalah sama dengan terhadap agama saya sendiri. Oleh karena itu tidak mungkin ada gagasan untuk berpindah agama (hal.73).

Terlalu panjang jika mengurai lembar demi lembar pemikiran tokoh kharismatik dan disucikan oleh penganut masing-masing (Rasulullah Muhammad SAW) dan (Mahatma Gandhi). Satu yang pasti bahwa mereka tak memberikan ruang pada kekerasan terhadap sesama manusia.

Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

6 comments:

  1. tulisan yang menyentak...
    mohon izin untuk link blog ini dgn blog saya. thanks

    ReplyDelete
  2. kanda Yusran, saya salah satu pengagum tulisan kanda, sejak kuliah saya selalu membaca tulisan di Iden dan juga tribun...mohon ijin tuk belajar menulis kepada kanda yus, (tulisannya bernas)...

    salam hangat

    ReplyDelete
  3. sy termasuk tipe penulis ngawur. sy masuk dalam banyak tema krn ketidakpedean sy utk menulis satu tema. bagi saya, tak masalah seperti apapun isinya. yang penting adalah kesediaan untuk sharing serta sikap humble untuk berbagi cerita dan pengetahuan

    ReplyDelete
  4. sy termasuk tipe penulis ngawur. sy masuk dalam banyak tema krn ketidakpedean sy utk menulis satu tema. bagi saya, tak masalah seperti apapun isinya. yang penting adalah kesediaan untuk sharing serta sikap humble untuk berbagi cerita dan pengetahuan

    ReplyDelete
  5. point yang saya tangkap "humble" mungkin yang sy tanamkan bahwa tetap membumi...

    sepakat kata2 ta kanda, sharing dan tak lupa sikap "humble". saya jarang sebenarnya menaruh note ditulisanta krna tidak penting, (yang kta bilang ngawur) tapi yang penting bagi saya cukup membaca dan menangkap makna yang sy tangkap dari tulisan orang besar dan (calon) orang besar seperti kita...tulisanta seperti halnya Dhaniel Dhakidae. mengalir dan itu yang saya mau ikuti, walaupun itu sulit buat saya...

    ReplyDelete
  6. point yang saya tangkap "humble" mungkin yang sy tanamkan bahwa tetap membumi...

    sepakat kata2 ta kanda, sharing dan tak lupa sikap "humble". saya jarang sebenarnya menaruh note ditulisanta krna tidak penting untuk dikoment yang saya mau lakukan adalah apresiasi tulisanta dengan membaca tulisanta (yang kta bilang ngawur) tapi yang penting bagi saya cukup membaca dan menangkap makna yang sy tangkap dari tulisan orang besar dan (calon) orang besar seperti kita...tulisanta seperti halnya Dhaniel Dhakidae. mengalir dan itu yang saya mau ikuti, walaupun itu sulit buat saya...

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...