Tuesday, February 22, 2011

Cukup (untuk) Nayla

Hari-hari ini kita akan banyak berbincang Nayla, kejenuhan skaligus kerinduan telah mengingatkanku tentang dirimu. Tertegun mendengarmu di usia 5 tahun sudah ditentukan perjodohan (perjodohan dini). Perjodohan di usia belia memang tak mampu kau tolak. Tradisi dan sejarah kadang melekat dan mengekang, juga dirimu yang terkekang pada kekuasaan. Kekuasaan selalu melekat dalam hidup manusia. Kekuasaan ada dimana-mana, begitulah Foucault menyebutnya.

Kisahmu tak sendiri. Aku menceritakan kisah Sitti Nurbaya agar kau tak sedih atas perjodohan dini ini. Sitti Nurbaya adalah perempuan zaman yang tak kuasa menolak perjodohan. Kekuasaan patriarki dan feodal telah menentukan nasibnya. Kasihnya tak sampai ke pujaan hati, Samsul Bahri. Sitti Nurbaya tak berdaya atas kuasa itu. Akhirnya air matanya menjadi hambar di hadapan materi dan penguasa Datuk Maringgih . Masih kah penting air mata Nayla ? aku tau kau belum bisa menagis untuk saat ini, ke-belia-aanmu adalah ke-ceria-anmu.

...memang dunia

Buramkan satu logika

Seolah - olah hidup kita ini

Hanya ternilai sebatas rupiah


Oh.. cukup Siti Nurbaya

Yang mengalami Pahitnya dunia

Hidupku kamu dan mereka semua

Takkan ada yang bisa memaksakan jalan

Hidup yang 'kan tertempuh. Dewa 19, Cukup Sitti Nurbaya.


Ditimur jauh, sejak anak-anak perjodohan menjadi lazim, kelas bangsawan dan penguasa menjadikan standar tradisi perjodohan dari kecil, tak ada alasan lain kecuali melanggengkan status dan kekuasaan. aku baru menyadarinya, dirimu mengalir darah biru. (mugkin jika kau boleh memilih maka kau akan memilih menjadi orang biasa saja bukan ?) sama halnya diriku Nayla, itu mustahil. Kita tak ada pilihan ketika dilahirkan, kita tak diberi ruang untuk menolak sejak di alam rahim.

Dirimu tak punya nilai tawar, hanya dilihat sebagai komoditas, Nayla. Dirimu dipandang hanya sebatas seonggok daging tak bernilai. Sungguh (aku) tak sanggup berkata seperti itu. Namun setelah besar kau akan mengerti dunia. Kau akan tumbuh dan mengerti semua nanti. Anthony Gidden dalam run way world menyinggung bagaimana perjodohan di China. Perempuan hanya boleh duduk, diam dan mengangguk. (pola tradisional) entah masih relevan hingga saat ini atau tidak ?, Namun melihat dirimu, perjodohan seakan mengaminkan tesis itu. Kau terlalu muda untuk mengerti perjodohan, semasa kandungan telah ditentukan dia akan menikah dengan siapa, berjodoh dengan siapa ?, jodoh ditangan orang tua mereka (bukankah jodoh hanya tuhan yang berhak ?). masyarakat India ada pola yang dijaga untuk tak menolak perjodohan, setinggi-tingginya ia ber-sekolah.

Perjodohan dini tak dapat kau tolak kini (walau kau berkata tidak!). Saya tak tahu bahasa hatimu, menerimanya sebagai takdir atau menangis atas ketakadilan dirimu. Besar nanti kau akan tau cerita ini. Cerita ini untukmu Nayla. Kuyakin kau marah padaku atas sikap nihilku. Kau pasti sedih atas nihilisme ini (bukankah aku slalu memberimu senyum setiap waktu ?) Hari ini begitu sentimentil memang. Hari tak seriang kemarin. Jangan harap dunia selalu memberi warna cerah untukmu karena tuhan tak selalu menjajikan langit selalu biru. Keperihan hidup selalu memiliki ruang sendiri dalam hidup manusia. Bebanmu memang tak terasa hari ini, seiring waktu kau akan mengerti semua. Kini kau terasing pada dunia manusia dewasa.

Saya mengutip sajak untukmu dari cerita penyair perempuan, Anna Akhtamova-Istri Lot (Caping Goenawan Mohamad, tempo : 2011).

...terpaku pedih : tak ada yang tersisa lagi/dan di saat itulah kakinya terbenam/tubuhnya tiang garam.

Keperempuanan (mu) akan kehilangan di masa kecil. Hidup dalam kekangan tradisi, akhirnya tubuhmu hilang tak berarti. Hanya diriku yang tau kondisimu Nayla. Maaf! Jika cerita ini mengeksploitasi dirimu, yang hanya membuatmu jatuh dalam cerita ini. narasi ini mencabik-cabik dan menambah beban deritamu.
Untuk hari ini kita tak bersahabat.

Hening, Jogja 220211
Share:

4 comments:

  1. selain perjodohan, apakah pernikahan di usia dini juga masih ada kak?

    ReplyDelete
  2. kalo masy.tradisional yang berpandangan endogami (penikahan kedalam) sy kira masih menerapkan pola itu. keturunan China, Arab di Indonesia pada umumnya pernikahan kedalam.

    untuk pernikahan dini,skarang sy liat mengalami perubahan, perempuan tidak mau lagi menikah muda. rata2 usia menikha 25, nah pertanyaanya lagi, meike mau nikah usia berapa ? :)

    ReplyDelete
  3. yang jelas pada saat itu saya sudah jadi orang.
    soalnya saya tidak mau bergantung sepenuhnya dengan suami kak...^^

    ReplyDelete
  4. kata "bergantung" itu dekat dengan relasi kuasa, :)
    dalam perspektif politik ruang, misalnya rumah, ada ruang-ruang tertentu bisa dilihat, misalnya seberapa sering suami di dapur, atau seberapa sering perempuan di ruang tamu dsb...

    hubungan setara itu dibutuhkan, karena laki2 dan perempuan saling mengalami ketergantungan dan saling membutuhkan. hx taataran praktisnya kadang tidak demikian... :)

    salam hangat meike...

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...