Monday, February 21, 2011

(bahasa) Konflik dan Kekerasan

Kesan pertama di kelas tentang konflik dan perdamaian membuat saya harus mendefenisikan ulang kedua term itu. Betapa tidak saya selalu menggabungkan antara kekerasan dan konflik. Mencampur adukkan antara bahasa (istilah) konflik dan kekerasan. Anehnya kita pun terjebak dalam labirin pengetahuan dan akhirnya dangkal. Di kelas yang diisi dengan dosen muda (sekitar 35-an) yang rata-rata mengenyam pendidikan luar negeri memberi pemahaman. Paling tidak dosen saya ini aktif dalam studi perdamaian dan konflik UGM.

Pikiran saya tentang konflik dan kekerasan selalu tumpang tindih. Padahal tidak selalu kekerasan adalah konflik. Inilah pentingnya epistemologi menurutku selain juga memahami bahasa. Dan saya pun harus lebih dalam lagi belajar filsafat ilmu. Saya pun dibawa pada pemahaman baru bahwa konflik adalah proses inheren dalam manusia. Secara teoritis, teori sebagai term menjadi persoalan dan diskursus akademik mulai dari klasik sampai modern. Namun kekerasan adalah term yang baru berkembang pada tahun 60an- ini bisa dilacak dari pemikirian Hanna Arendt.

Disadari bahwa kekerasan timbul ketika konflik dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian. Namun tidak semua kekerasan itu konflik. Sebagai analogi sederhana, ketika seseorang turun dari mobil mewah diantara kerumunan tukang becak (orang yang tak berpunya) maka disitu sebenarnya sudah ada konflik (laten). Karena kesenjangan adalah konflik sebenarnya tidak selalu bermuara pada kekerasan seperti analogi ini.

Konflik adalah proses terjandinya kuasa. Meminjam istilah Gramci, hegemoni. Konflik juga bisa terjadi jika-meminjam istilah, Marx. Dominasi kelas. Konflik adalah term yang selalu melekat dalam kehidupan.

Singkatnya. Konflik dan kekerasan harus dipisahkan (untuk wilayah akademik sangat jelas dipisahkan). Untuk hal ini kekerasan lahir ketika show of force (penunjukkan kekuatan) ditunjukkan. Kekerasan selalu menunjukkan kekuatan (massa, senjata) sedangkan konflik selalu terjadi pada ketidakseimbangan kekuasaan.

Hari ini kembali memberi pemahaman. Pengetahuan bahasa tak semudah menuliskannya.hmmm, keep reading.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...