Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Antara Barbie, Upin, Bobo


Gadis kecil itu meraih majalah bersampul boneka pirang, bermata hijau, bergaun sedikit feminim. Persis, di deretan itu (Majalah Barbie) terdapat Upin & Ipin dan beberapa majalah anak-anak.

“Bunda, aku milih barbie aja, boleh nggak ?,” pinta gadis kecil kepada ibunya.

“Boleh sayang”

“ Upin & ipin nggak mau ?” ibunya mencoba meyakinkannya.

Perempuan kecil itu hanya menggeleng tidak!.

Beda dengan anak kecil dulu yang suka membaca Bobo, si kelinci biru teman bermain dan membaca. Namun sekarang, telah berbeda jauh. Anak-anak lebih suka membaca dengan citra populer (Barbie dan Upin & Ipin sebagai contoh).

Imajinasi anak kceil sudah di konstruksi oleh barbie. Citra-citra produk global semisal Barbie menjadi menarik sekarang, dimana Barbie menjadi teman bermain anak-anak yang merepresentasikan kehidupan modern, dan kelimpahruahan harta.

Barbie seolah menjadi fakta kehidupan dan anak kecil itupun ingin (meniru) seperti halnya kehidupan Barbie, dan akhirnya larut dalam dunia hiperealitas Barbie. Kontruksi dan rekonstruksi atas realitas yang akhirnya menjadi hiperialitas. Dan akhirnya citra Barbie laku dipasar. Anak kecil itu sebagai contoh, tidak hanya dia yang mengkonsumsi Barbie tapi ratusan anak bahkan ribuan anak kecil di Indonesia “terhegemoni” dengan Barbie.

Imajinasi orang desa pun beda, yang ada hanya adalah Upin & Ipin. 2 bocah gundul ini menggemaskan dan sarat dengan nuansa kesehajaan dengan muatan pendidikan. toh, Upin dan Upin masih mampu berlari kencang bersaing dengan Berbie.

Kemana si kelinci kecil ?

Dalam jejeran rak buku itu memang hanya terselip majalah Barbie, Upin & Ipin dan beberapa majalah anak-anak. Tapi mengapa Bobo yang begitu diminati dan terlaris (dulu), kini tak bersanding dengan majalah anak-anak lainnya ?. Timbul perasaan heran dan mencari tahu mengapa hilang dari peredaran atau majalah yang pernah pepuler ini sedang di-ninabobo-kan? Penasaran pun bertambah, akhrinya mengelilingi rak buku yang berisi majalah anak-anak, tapi bobo, si kelinci biru tak bertengger di sudut rak. Tak satupun.

Saya pun mengakhiri pencarian itu dan berharap bisa menemukannya di toko loakan (akhirnya saya menemukan edisi tahun 2006, itupun di toko buku bekas).

Bobo, Si kelinci tak lagi mampu berlari kencang, sekencang Barbie dan Upin & Ipin. Tak gesit lagi menentang arus global dan akhirnya kalah. Ibarat kontestan lomba, pemenangnya adalah Barbie dan Upin. Si kelinci hanya penggembira. Tak salah jika Bobo hanya bisa didapatkan di toko buku bekas bukan toko buku di mal dan tempat belanja lainnya.

Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...