Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Manusia Hujan


Gemericik hujan di ujung sore mencumbu dedaunan sore itu. semakin lama semakin deras menghujam bumi. Tak juga daun, preman, pengemis, perempuan kecil dan Lelaki itu tak luput darinya : Basah. Semua mencari tempat berlindung. Shelter busway, angkringan, pos-pos satpam, halte agaknya tepat mencari suaka.

“Tuhan dengan cintanya menurunkan hujan pada daun dan mahluknya yang berdosa”. Guman hati membuat mengingat sesuatu yang transenden.

Lelaki itu ingin menikmati hujan seperti manusia-manusia hujan di ujung jalan itu. Bernyanyi di bawah hujan. Merasakan tiap bulirnya menyentuh tubuhnya. (walau tak mudah memaksakan niatnya hanya romantisme semu masa kecil dulu).

Dalam hitungan menit orang-orang bergegas ke halte. Tak ada ruang lagi untuk bergerak. Sesak dengan manusia. Juga lelaki itu. Terhimpit dari manusia-manusia asing.

Hari ini Lelaki itu bertemu manusia yang mengalami rasa duka, ada yang membatin dalam doa, juga ada yang diam tepekur dan tatapan kosong. Lonely on the crowed . seorang yang asing dikeramaian. Sibuk dengan cara masing-masing. Lelaki itu telah merasakan terasing dalam keramaian sore itu.

Sore itu memang dingin. Dinginnya seperti merasuk kedalam pori-pori.

**

Semua nampak tak bersuara, seperti seorang yang kesepian dalam keramaian. dipojok halte, pengemis sibuk dengan kaleng derma, menghitung receh yang tak lebih dari lima ribuan. Lelaki itu menebak sebelum pengemis itu usai membilang. Bagian depan, bocah perempuan mengadah tangannya ke langit, ia mungkin berdoa atau berharap hujan untuk reda, rindu pulang.

“Ma, kita gak telat kan sampe ke rumah nenek ? “

“Nayla ingin bantu menghias pohon natal Ma”

Ibunya menarik dan mendekapnya. Dengan bahasa tanda, ibunya hanya mengangguk (tanda berkata, ya!).

Bukan engkau saja yang rindu pulang adik kecil, kami pun rindu untuk pulang, rindu hangat selimut dan segelas teh panas untuk diseruput.

Hujan memberi pesan rindu pada tanah atas langit. Hujanlah sebagai penghubung kerinduan itu. Antara langit dan bumi yang berjarak ribuan kilometer. Hujanlah penyampai pesan itu. Biarkan hujan mencumbu tanah. Sejam saja Itu sudah cukup.

Tak terasa hujan perlahan melambat, alirnya berubah menjadi rintik-rintik kecil. Lelaki itu mendongak keatap halte. Tetesan melambat, slow motion. Agak lama untuk sampai ke tanah. Semua bergeras pulang, pengemis, dan perempuan kecil tak terasa hilang dalam pandangan. Hujan pun reda. Usai sudah seremoni sore itu. Manusia-manusia sunyi tak nampak lagi dari pandangan.

Dimana Lelaki itu, (apa yang akan lelaki itu lakukan setelah hujan reda ?).

(masih di halte itu, masih mematung dan menikmati alirnya...)

“hujan memang membawaku pada nostalgia”.

Lelaki itu mecoba memecah kebekuan (walau sebenarnya sulit). Lelaki itu tak sepatah katapun berucap. Masih saja sama. Dalam tanda tanya. Menikmati nostalgia.

Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga untuk sahabat yang berkenan menuliskan komentar kritisnya...salam bahagia