Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Fenomena Jazziana (Tafsir Atas Musik Jazz di Indonesia)


Musik Jazz sangat menarik untuk dicermati. kini, Jazz menjadi genre musik yang memiliki komunitas tidak sedikit. Terkhusus kota-kota besar Indonesia semisal Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Surabaya. Sebagia genre, Jazz menjadi warna baru dalam kehidupan masyarakat di Indonesia.

Jujur, saya sendiri baru menyukai Jazz (walaupun sudah lama mengenal Jazz dari penampilan Embong Rahadjo, Gilang Ramadhan, Indra Lesmana dan Dewa Bujana, atau Sandi Sandoro) sejak memutuskan kuliah di Jogja. Setiap pekan selalu ada acara musik Jazz dari komunits Jazz yang berasal dari anak muda Jogja. Kadang acara ‘gratis’ ini biasa tak luput untuk saya saksikan.

Memasyarakatkan Jazz

Mengutip Kompas (minggu, 12 Desember 2010) menyajikan cerita tentang Jakjazz yang bisa memberikan pemahaman apa arti genre musik ini, tabiat seniman Jazz selalu bisa mengintegrasikan ide musikal dalam permainan. selalu ada dalam ketiba-tibaan yang tak disangka-sangka datangnya. Jazz memberi kesan artistik dalam permainannya. Kesan ini yang muncul ketika saya menyaksikan Jazz, seniman Jazz seolah-olah asyik dengan dirinya sendiri, mengalir, dan penuh penghayatan.

Fenomena yang lahir kemudian munculnya komunitas Jazz yang dalam istilah saya sendiri : Jazziana (istilah yang saya serap dari istilah kompasiana, yang memakai akhiran iana, terkesan ganjil memang). Tak penting memperdebatkan term tentang Jazziana. terpenting dalam hal ini adalah, masyarakat telah menyukai Jazz yang menurut asumsi saya [dulu] bahwa musik yang ‘eksklusif’ hanya dinikmati segelintir orang [untuk di indonesia]. Dikonsumsi untuk orang-orang yang mengerti tentang Jazz, seniman, dan kelas atas saja, namun asumsi ini menguap ketika menyaksikan Jazz di salah satu acara musik Jazz di Jogja. Genre musik ini telah menyatu dalam komunitas dari kalangan mahasiswa, kelas pekerja dan akademisi.

Jazz telah memiliki komunitas sendiri yang bisa menjadi genre baru dalam permusikan di Indonesia. Ini bisa dilihat dari program, dan format acara di radio dan televisi. Jazz menjadi format dalam tiap acara, media cetak juga tak ketiggalan menyajikan informasi tentang Jazz, musik ini sekarang menjadi topik menarik di jejaring sosial semisal FB atau twitter. Bahkan telah masuk dalam lingkungan akademik, Jazz menjadi acara menarik dan selalu di tampilkan dalam tiap acara kampus.

Asumsi saya, fenomena Jazz yang melanda relung kehidupan masyarakat menjadi menarik karena musik ini memiliki tradisi secara sosio-historis terus berkembang dan mengalami transformasi sejak lahirnya di Amerika Serikat. Ruh dari musik ini adalah perlawanan atas ketertindasan yang menjadi sintesis dari perkembangan musik ini (secara historis Jazz melekat dalam lapisan kelas bawah). Jazz lahir dari kreatifitas orang-orang kulit hitam yang mengalami penindasan dan perbudakan di Amerika pada akhir abad-18 (Heru Nugroho, Mcdonalisasi Jazz : 2003 hal, 133).

Sebagai penikmat Jazz, saya tidak terlalu paham tentang aliran Jazz yang bergaya New Orleans, Swing, Bebop, Coo, Hardbop, Fusion dan Free. Yang pada akhirnya hanya menikmati Jazz dengan cara sendiri. Sebatas menikmati, itu saja. Tidak lebih tidak kurang.

Salam hangat dari Penikmat Jazz

Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga untuk sahabat yang berkenan menuliskan komentar kritisnya...salam bahagia