Saturday, November 13, 2010

Catatan akhir

Catatan Akhir BPO (yang datang, yang pergi)

Assalamu alaikum wr.wb.
Salam sejahtera bagi kita semua

Perkenankan kami melaporkan kondisi obyektif BPO,
Tidak ada yang abadi kecuali perubahan. mengarungi waktu kurang lebih satu tahun sejak kami dimandat menjadi BPO (Badan Perimbangan Organisasi), tidak terasa tiba saatnya untuk memberikan sedikit torehan sebagai tanggung jawab dan juga pengabdian terakahir baik kami sebagai BPO yang pernah ada di KEMASOS maupun kami sebagai senior. Perkenankan kami meretas laporan obyektif BPO dengan nama “Catatan Akhir BPO ( yang datang yang pergi).

Mungkin terlalu bombastis kami menulis laporan obyektif. Namun, itulah kami BPO yang berani ungkapkan rasa. Ungkapan rasa kami tuangkan dalam catatan akhir yang nantinya menjadi suatu renungan, kenangan, bahkan penghias bagi dialektika ber-KEMASOS FISIP UNHAS.

Seperti hidup, ada yang datang ada yang pergi. Yang pergi sebagai kenangan dan yang datang sebagai kehidupan kekinian. Sejak awal kami dimandat, terjadi suatu uforia dengan kami sebagai BPO bahwa kami dapat menjadi bagian dari badan pengurus yang sharing dengan pengurus. Seiring berjalannya waktu “kehangatan dan romantisme” itu hilang. Entah mengapa!

Ada benarnya Marx “sesungguhnya bila perut kenyang dunia akan damai”. Namun ini bukan masalah perut, namun egoisme yang tidak membuat kita terjadi keteraturan sosial. (maaf jika kami salah menafsirkan).

Realitasnya bahwa kami merasa sangat berdosa tidak bisa terlalu maksimal menemani teman-teman karena beragam aktivitas dan juga kami sudah terlalu ‘tua’ untuk menemani teman yang masih muda. Maaf!! ini bukan suatu pembenaran

Menoleh kebelakang, kami menyampaikan bahwa romantisme dalam Ber-kemasos itu sudah terkikis walaupun belum mencapai pada titik nadir. Kami rasakan nuansa yang terbangun sebagai suatu simbol kekeluargaan itu hampir hilang. Mungkin agak berlebihan, tetapi realitaslah yang berbicara.

Kami malu terhadap senior yang mengatakan “kalian gagal mengawal teman-teman” dan itu kami sadar tidak bisa berdalih karena mereka melihat realitasnya.
Nuansa yang hampir hilang adalah kurangnya pengormatan tradisi dalam kemasos dan pelibatan senior dalam setiap even, penghargaan terhadap senior, penghargaan terhadap sesama, konflik fisik dan yang paling parah adalah pernghargaan terhadap lembaga itu sudah hampir hilang. Maaf kami mengungkit masa lalu tapi itu bagian dari sejarah kita.

Kita seakan larut dengan konflik dan menjadikannya itu suatu niscaya, dan yang terjadi kita lebih senang terjadi konflik dan malah lebih senang lagi melihat orang terluka. Kita seakan tidak memiliki tanggungjawab terhadap lembaga, terlalu mengedepankan ego dan selalu bertanya tentang hak dan seakan melupakan kewajiban. Ironi, tapi nyata

Hal yang ironi bagi kami bahwa kita hidup dalam lembaga yang mengatas namakan kekeluargaan tapi anehnya sikap laku kita tidak seperti keluarga. Aneh, tapi ada!

Melihat hal tersebut, kami sebagai BPO merasa sangat bersalah dan berperan besar dalam penyelesaian masalah di kemasos. Kami sadar bahwa dalam interen kami juga sering terjadi konflik laten sehingga jika terjadi masalah dengan teman-teman pengurus kami tidak banyak membantu karena kami juga perlu dibantu. Olehnya itu kami yang tidak terlalu memberikan arti meminta dengan sangat. Maafkan kami! Maafkan kami tidak banyak memberikan sumbangsih kepada teman-teman.

Menapak perubahan (journey of change), itulah harapan kami sebagai BPO menapak perubahan yang lebih berarti di kemasos. Hal yang kami impikan bahwa membuat suatu yang ‘ironi’ menjadi ‘harmoni’ ini agak utopia namun itulah harapan. Jangan hidup tanpa harapan. Harapan kami, yang datang menciptakan harapan yang kami harapkan. Kata seorang bijak bahwa “janganlah berhenti bekerja hanya demi mempertahankan gengsi, karena jika demikian anda bekerja untuk orang lain, melainkan untuk diri sendiri.”
Ada catatan kami sebagai BPO, disisa waktu yang hampir beralih generasi seiring pemilihan BPO yang baru.

Beberapa catatan yang mungkin menjadi harapan besar kami pengurus yang datang atapun BPO yang datang adalah sinergitas di dalam kemasos, romantisme dalam kemasos, penghargaan terhadap lembaga, penguatan kader, menjalin kebersamaan antara senior dan yunior. Dan tak penting ingatlah kami.

Apa yang bisa diigat? tidak lain adalah kenangan. Bukan masalah masalah ‘menyet’yang ditolak (cinta yang tertunda), bukan masalah sentimen kepada dosen (nilai yang tertunda), sekte atau kelompok, dendam dan ego kita, akan tapi “kenangan” yang akan ada setelah kita tiada.
Yang datang, yang pergi. Kami akan pergi. Namun masih mengigat teman-teman, adik-adik sebagai suatu kenangan.

Catatan akhir ini bukan sebagai catatan akhir, masih banyak yang harus kita catat agar sebagai pengigat kita akan segala hal. Catatan ini sebagai risalah bagi pengurus yang datang bahwa masih banyak tugas dan tanggung jawab yang harus diemban.
Meminjam kata dari salah satu filsuf bahwa “kita harus belajar memaafkan dari masa lalu tapi tidak boleh melupakan masa lalu”.

Kami dari BPO memohon ampun dan meminta kepada teman-teman dan senior (kalau ada). Maafkan kami, jangan benci kami dan jangan menghindari kami. Karena kami sayang kalian!.
Masa lalu bagian dari hidup, jika masa itu kami melakukan salah maka maafkan kami. Dari kesalahan masa lalu jangan dilupakan agar dapat menjadi pelajaran berharga.

Akhirnya catatan akhir ini akan berakhir.....dan terimakasih memberikan kami waktu untuk berani mengungkapkan rasa......

Assalamu alaikum wr.wb.

BPO periode 2004-2005

Patta Hindi 9koordinator) Rosmiati M.Syahrul Iswar Hilal Luktfy Alam

CATATAN AKHIR BPO, (yang datang, yang pergi)

Share:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...