Tuesday, October 19, 2010

Perempuan [punya] kuasa

Wanita jawa tidak perlu menjadi-

maskulin untuk mendapatkan kekuasaan,

tetapi justru ia harus memanfaatkan kefeminitasnya


Buku : Kuasa Wanita Jawa, Cristina S. Handayani & Ardian Novianto


Menarik membaca buku titipan sahabat di Makassar. saya hanya mengutip sekenanya saja tentang bagaimana perempuan bersikap, dan berfikir tentang dirinya yang selalu dalam bayang-bayang maskulin.

satu hal yang menarik dari perempuan, bukan hanya perempuan Jawa tapi perempuan di Indonesia sebagian besar berada dalam lingkaran konstruksi sosial : patuh, di dapur, lemah, lembut dan sebagainya.

yang terjadi dalam konteks tradisional, pertentangan tajam antara laki-laki<>perempuan yang menyempit menjadi pertentangan, dalam bahasa Filsuf Perancis, Derrida : oposisi biner. dikotomi ini ibaratnya siang<>malam, air<>api. yang bisa muncul kemudian adalah salah satu dari term ini saling berusaha menguasai kalo memakai bahasa tradisi lama, term laki-laki menguasai term perempuan. faham feminis pasti mencak-mencak jika dikatakan laki-laki lebih unggul dari perempuan. realitasnya, konteks patriarki muncul karena ditopang superioritas dari laki-laki. mungkin konteks negara kita paling banyak menjadi contoh.

secara praktis ditunjukkan dalam opisi biner yang ditunjukkan laki-laki menguasai perempuan : laki-laki di wilayah publik, perempuan domestik.

pertanyaan kemudian adalah apa yang mesti perempuan lakukan ? jawabannya bukan air mata, bukan pula kerlingan mata apalagi menghamba. tidak, skali lagi tidak. perempuan harus menyandarkan dirinya sendiri. kesadaran kritislah yang bisa dilakukan untuk bisa lepas dari kekangan term laki-laki. ini jika perempuan sepakat pada Marx atau sepakat pada Derrida tentang Dekonstruksinya. itu semua pilihan sikap.

Dekonstruksi adalah pandangan derrida tentang perlawanan kekerasan, penindasan, penguasaan, dan penyingkiran (Majalah Basis-Kanisius, edisi khusus Derrida, November 2005). Dekonstruksi menekankan pada 'pembongkaran' atas sejarah, tanda, teks dan nilai-nilai.

jika dimakna,ketimpangan ini tidak hanya dilihat hanya ketimpangan saja akan tetapi ada langkah nyata. karena tak ada makna yang tetap dalam hidup begitu kata Derrida.

untuk menjaga ketimpangan menjadi seimbang, perempuan harus [punya] kuasa. sehingga dari posisi timpang bisa menjadi posisi imbang (sejajar) dengan laki-laki yang bisa melahirkan gubungan yang setara.

Dekonstruksi sejatinya adalah cara membuka mata, telinga, pikiran bagi perbedaan...sehingga apa yang mengakar kuat pada tradisi, nilai dan institusi patriarki bisa terbuka dengan terang benderang.



Share:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...