Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Maridjan, Sang Pemenang

Saya mengibaratkan ia adalah Kapten kapal yang melawan ganasnya gelombang samudra. Hingga akhirnya tak kuasa melawan hempasan, gugur dan karam bersama kapalnya. Ia mirip seperti kapten Kapal dalam film Titanic, mengunci diri dalam kabin kapal terbesar itu (pada abad-19) dan karam di samudra Atlantik. Benar-benar sang pemenang.

Persis seperti itu ceritanya, Maridjan adalah juru Kunci Merapi ibarat kapten kapal, dan menjadi juru kunci kesultanan Yogyakarta tidak gampang. Selama kurang 25 tahun mengabdi menjadi abdi (juru kunci) merapi, dedikasi adalah nama yang pantas disematkan padanya.

Menjadi abdi dalem bukan masalah materi, tak dibayar pun mereka rela. Konon, Mba Maridjan dibayar perbulannya hanya Rp.5000. untuk yang berfikir rasional, tak ada yang mau mempertaruhkan nyawa untuk menjaga amukan merapi yang paling aktif di dunia itu dengan imbalan Rp.5000. dia sang pemenang

Tapi Maridjan beda, ia mendedikasikan diri hingga akhir hayat pada sang Raja. Perlu diingat dalam mitologi Jawa, kehidupan semesta berasal dari beberapa sudut, dan garis imajiner membentang dari Merapi hingga pantai selatan. Merapi sebagai personifikasi Raja dan Pantai selatan adalah ratu. Dan pusat kehidupan ada pada keratin Yogyakarta.
Raja (baca : merapi) memerlukan abdi dalem yang setia (dan pada umumnya abdi dalem itu setia), dan itu ada pada diri Mba Maridjan.

Hari itu, pertanda sang 'Raja' murka terlihat menjelang magrib, wedhus gembel (awan panas) menyusup perlahan seperti Ninja Asasshin dengan kecepatan 200km/jam. Maridjan tahu itu. ia sudah menerjemahkan bahasa alam. Adakah ia lari mencari tempat yang aman atau berlindung ? (mungkin jika saya menjadi dia) tak ada jalan lain kecuali : Lari. (lagipula langkahnya yang lunglai tak mungkin dapat mengalahkan kecepatan benda yang berkecapatan 200km/jam). Tapi untung Maridjan bukan saya yang berlagak pecundang dan lari dari tanggung jawab sebagai abdi 'Raja'.

Ia sadar bahwa titah dari sultan (Hamengku Buwono IX) untuk menjaga Merapi adalah suara Tuhan. Suara Raja sama halnya suara tuhan, walau nyawa taruhannya. Ia tahu betul itu.

membaca Kompas (sabtu,30/10/2010) ada sikap yang lain, ada yang menganggap rasional, ada yang menganggap tidak tindakan Maridjan. tapi menarik ulasan pada sabtu itu. ia melihat sisi lain bahwa kehidupan tidak monotafsir, nisbi, dan serba mutlak. sama yang dikatakan Derrida : tidak ada makna tunggal di dunia ini.

merapi terlalu cepat membawa pesan : status waspada berubah menjadi siaga, beberapa saat kemudian menjadi awas...
dan akhirnya melengkapi cerita kematian yang menakjubkan dari Mba Maridjan yang penuh dengan kesehajaan...

pergilah dengan damai SANG PEMENANG...

(Rugi lama di Jogja jika tak mendaki ke Merapi...dan semoga saya tak melewatkan Merapi suatu nanti jika ia berubah status)
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...