Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Tentang Hidup

drrt...drtt..handphone bergetar. sms masuk. Innalillah wainnalillah, telah meninggal tetangga belakang rumah. Berita dari kampung masuk. Aku membalas dengan sedikit bernada interogatif, bertanya sebab musabab tetangga itu meninggal. Kenapa bisa ? Balasan datang kemudian, perempuan paruh baya yang bersuamikan tukang ojek itu ia memeliki riwayat diabetes dan tak mampu membayar biaya obat di rumah sakit. Dia ditolak karena faktor biaya. Betapa mirisnya hidup.batinku subuh itu. saat matahari masih muda sudah mendengar berita duka.

Kampung itu hanya di huni beberapa kepala rumah tangga, tidak sampai empat puluh KK. Hanya bisa disebut rukun tetangga tepatnya. Sebuah Surau berdiri ditengah-tengah, baru dibangun seorang dermawan yang prihatin atas kondisi kampung. Dan kami tinggal di kampung itu beberapa lama sebelum pindah untuk sebuah alasan ekonomi. Mencari sesuap nasi. Tapi hubungan sosial kami tetap terjaga sebagai kesadaran tradisi. Merasa satu keluarga.

Kembali soal kematian, perjalanan panjang setelah hidup. Dalam mistikus Gde Prama,kematian adalah suatu peralihan peristiwa. Aku belum sanggup menghadapi itu, walau memang harus siap. Setiap mahluk yang bernyawa akan merasakan mati. Suatu nanti akan menuju kesana. Ya benar itu.

Secara bersamaan, tetangga depan rumah meninggal di kampung baru. Di lorong sebelah ada tanda bendera putih. Tentunya sudah bisa ditebak, itu bukan pesta sunatan, atau kawinan. Tapi kematian. Hari ini memang nuansanya secara bersaaman muncul dalam aroma kesedihan.

Ada cerita dari sahabat, tentang kehilangan (baca : kematian), mereka tak dapat berkumpul lagi secara utuh saat moment Ramadhan, atau Hari Raya tiba. Serasa ada yang hilang. Waktu berubah cepat dengan keadaan itu. Kubersedih dengan cerita itu. Cerita tentang kehilangan.

Kematian akan memburu kapan pun tanpa ampun. Seperti peluru yang bisa kena siapa saja. Kamatian ibarat jalan pulang seorang pengembara kembali dari perjalanan. Tempat dimana ia mengakhiri semua. Kematian seperti terminal sementara dalam sebuah perjalanan, ada tempat untuk singgah sebelum sampai pada statsium pemberhentian terakhir.

Kematian itu mengingatkanku akan keluarga, ayah, ibu, saudara-saudaraku, tentang rumah kecil tempat menghabiskan waktu. Aku merindukannya seakan tetap seperti itu, tidak akan berkurang. Tapi itu salah. mengingnkan segalanya sempurna, namun sadar segalanya tak perlu sempurna seperti waktu yang bisa berjalan apa adanya. Aku, orang tua dan keluargaku adalah bagian yang akan menuju terminal itu. Jadi biarkan berjalan apa adanya.

Kematian bukan hanya rumah berukuran dua kali dua, nisan sebagai papan nama dan bunga kamboja sebagai peneduhnya. Kematian adalah fase peralihan peristiwa dan perjalanan mengarungi suara-suara keabadian. Rumah kedamaian.

Aku tahu dengan mati membuatku memahami dan memaknai hidup...
"Hush my love now don't you cry
Everything will be all right
Close your eyes and drift in dream
Rest in peaceful sleep"

Creed,lullaby
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...