lumbungpadi

Merawat Tradisi Memanah Ikan di Pulau Buton

April 02, 2018 0
Merawat Tradisi Memanah Ikan di Pulau Buton
Senjata Panah lengkap dengan anak panah (Dokumentasi Pribadi)
Dari mana ikan segar bisa dicicip tanpa dipancing? Jawabnya bisa didapat dari sebuah desa di Buton. Salah satunya Desa Barangka Kecamatan Kapontori Buton Sulawesi Tenggara.

*

Anak muda yang masih paruh baya di desa itu baru saja menata ikan karang segar di atas bale-bale bambu. Sebut saja, Kakap merah, Baronang, Ikan Putih dan berbagai jenis yang masih asing di telinga saya. 

Saya mengamit seekor Kakap yang dibakar dengan api sedang. Masing-masing orang mendapatkan satu porsi besar ikan segar yang baru saja diambil dari laut yang tidak jauh dari rumah penduduk. Ikan-ikan itu tidak dengan cara dipancing atau di potas (meracun ikan) namun dengan cara dipanah. Saya tidak sendiri malam itu, sekelompok anak muda kreatif di desa yang asal muasal mete itu menemani kami tim peneliti dari UMK. 

Setelah kegiatan wawancara dengan masyarakat setempat selesai. kami disuguhi makanan segar ala masyarakat pantai. Ikan karang hasil panah.

Ikan panahan itu berjenis kualitas nomor satu. Segar dan sehat. Orang di desa tersebut menyebut baru “mati satu kali” untuk menggantikan istilah ikan segar yang baru saja ditangkap. Betul sekali, ikan itu masih menggelepar di ujung anak panah ketika diangkat. 

Tradisi memanah ikan di desa Buton masih dihidupkan hingga kini. cara ini masih bertahan dari berbagai ancaman pemburu ikan yang menangkap dengan cara tidak ramah lingkungan: membom atau meracun. Tradisi memanah ikan itu masih hidup di desa-desa salah satunya Desa Barangka.

Di Barangka, sebuah desa di Pulau Buton cara menangkap secara tradisional itu dilestarikan dari generasi ke generasi. Dari  anak-anak hingga orang tua, memanah ikan menjadi kesenangan bagi masyarakat setempat. 

Memanah Malam Hari

Ternyata, memanah ikan tidak semudah yang saya pikir, butuh keahlian khusus untuk bias menaklukkan ikan yang gesit. Tapi penduduk setempat tahu cara menaklukkan ikan. Bermodal panah dan busur, kaca mata renang dan senter kedap air, mereka berburu ikan.

Berburu ikan dilakukan di malam hari dengan alasan, ikan lebih banyak berdiam di tempat gelap. Karena itu, berburu ikan dilakukan saat malam hari. Selepas magrib, penduduk setempat bersiap melaut dengan membawa 'senjata' panah. 

Tidak butuh waktu lama, penduduk yang kebanyakan nelayan tradisional itu mengumpulkan ikan di atas perahu kecil. Tanpa menunggu lama, penduduk bergegas pulang untuk mengolah ikan segar itu.

Mengolahnya cukup sederhana, di bakar diatas api sedang, sambalnya dari tomat segar, Lombok, garam dan perasan jeruk nipis. Orang Buton menyebutnya dengan sambal Colo-colo. Sederhana tapi sehat. 

Ikan Bakar plus Colo-colo (Dokumentasi pribadi)
Melihat ikan bakar segar dan sambal colo-colo, perut saya merespon dengan bunyi “kriuk-kriuk” pertanda keroncongan. Sebuah sinyal untuk cepat diisi. Takut maag saya kambuh, tanpa babibu saya mencomot ikan hasil panah tersebut. Hmmm, nyaman, terasa daging ikan yang seperti manis dan legit bercampur asam asin di mulut. Pecah. Selang beberapa menit, ikan berisi daging segar itu tinggal tulang. 

Di akhir makan malam itu, bunyi kecipak air laut membentur-bentur pasak rumah panggung penduduk menjadi pelengkap saya selama perjalanan melakukan penelitian ekonomi kreatif di pedesaan Buton. 

Perjalanan ini indah…

Mengusir Kebosanan di Era Disrupsi

March 01, 2018 0
Mengusir Kebosanan di Era Disrupsi
Ilustrasi (pixabay.com)
Suatu saat saya--mungkin juga sebagian yang lain--akan mengalami bosan. Bukan apa-apa, rutinitas yang itu-itu saja membuat ritme hidup seperti berhenti berjalan. Orang kantoran bekerja hanya di belakang meja, orang kampus atau civitas akademika berkutat dalam ruang kelas dan urusan akademik, para pengusaha menjalankan usaha tidak lagi memikirkan ekspansi atau mencoba bisnis baru. Orang yang duduk di pemerintahan berfikir bagaimana mempertahankan kekuasaan. Tak ada warna baru dalam hidup.

*
Sejak beberapa tahun ini saya dan mungkin juga orang lain mengejar sesuatu yang itu-itu saja. Saya misalnya, hanya mengejar karir akademik. dari dulu sekolah dari SD (karena tidak sempat TK) hingga mencapai gelar master. Dan anehnya masih mau mengejar sampai ke level Doktor. Anehnya lagi tidak bosan-bosan.

Ketika kesempatan datang mendapat Beasiswa BUDI LN Batch 1 tahun 2016. Saya hampir sekolah ke Australia tahun 2017 namun malang tak dapat ditolak, IELTS saya tidak diterima di Kampus UWA. Dan tahun 2018 ini masih terus mencoba meraih beasiswa 2018 dan itu masih di luar negeri. Ini membosankan buat saya karena mengejar yang itu-itu saja, tidak mencoba hal baru (menjadi pengusaha misalnya)

Demikianlah, saya mencoba melawan rasa bosan.

Mencoba mencari tantangatan baru di luar aktifitas sehari-hari: mengajar.

*
Terjebak dalam "zona nyaman" bisa saja membuat Saya tidak mencoba hal baru, tantangan baru dan warna baru. Daya tarik ketika sudah asyik masyuk dalam rutinitas harian akan melupakan hal-hal di luar sana. Orang menyebutnya lingkaran setan (apa istilah itu cocok?).

Saya pernah membaca artikel Roby Muhammad, pakar sociotechno Indonesia. Roby--demikian biasa saya baca namanya di media--mengembangkan perilaku sosial manusia dalam dunia internet-mengemukakan di era sekarang dimana ranjau-ranjau tertanam dalam hidup, lubang-lubang terselubung berada namun di dalamnya ada jembatan peluang berada.

Saya memaknainya, bahwa hidup di era digital berada dalam persaingan hidup yang ketat. Untuk menang dalam kompetisi itu, Roby Muhammad mengingatkan SPESIALISASI. Seseorang yang survive adalah orang yang memiliki skill dan pada akhirnya melahirkan INOVASI. 

Roby mencontohkan dirinya yang mendalami Ilmu Matematika S1 dan 'bermain-main' dengan ilmu Sosiologi pada level PhD di Amerika. Namun dari situ spesialisasinya terbentuk. Menguasai Matematika (eksperimen) sekaligus paham tentang ilmu masyarakat. Jadinya, Roby paham dengan interaksi manusia lewat internet melalui rangkaian eksperimen yang kemudian memperkokoh teori The Six Degrees of Separation.

Untuk melawan rasa bosannya, Roby tidak hanya berkutat dalam mengajar dan sibuk di laboratorium namun aktif dalam kerja-kerja sosial, menjadi aktor, dan pengusaha digital. Dia menjadi orang KREATIF dan INOVATIF.

Di era revolusi 4.0 ini orang dituntut untuk multi talent, multi tasking, membangun jejaring luas dan membebaskan diri dari sekat-sekat arogansi. Tipe orang seperti ini yang akan survive di era digital?

Kembali ke rasa bosan, ini seperti lonceng pengingat bahwa di era digital, kita dituntut untuk awas terhadap perubahan dan cermat dalam bertindak. Membaca sambil menempuh strategi bertahan hidup dalam setiap arah perubahan penting dilakukan di era disrupsi ini. Itulah yang dicoba oleh anak-anak muda inovatif Indonesia, sebut saja Nadiem Makariem yang membangun Gojek, Ahmad Zacky mengembangkan Bukalapak, William Tanuwijaya menggawangi Tokopedia dan lain-lain.

Orang-orang kreatif inilah yang jeli melihat perubahan di era digital. "Ini amajing" kata anak zaman sekarang. 

Akhirnya, hidup di era digital memaksa kita bergerak cepat dan tanggap perubahan.

Cara tepat mengusir kebosanan adalah dengan ber-INOVASI dengan hal-hal baru. Cara itulah mengusir kebosanan. 

Dan saya sedang mencobanya...