lumbungpadi

Pentingnya Audit Mutu Internal

June 07, 2018 0
Pentingnya Audit Mutu Internal
Sumber: Pixabay.com
Pendidikan yang berkualitas menjadi cita-cita besar dari Undang-undang No. 20 tahun 2003. Untuk menjawab hal itu diperlukan sebuat system audit mutu di tiap institusi pendidikan baik di perguruan tinggi maupun pendidikan dasar dan menengah. Salah satu hal yang bisa dilakukan perlunya system audit mutu internal. Namun pelaksanaanya, tidak seperti membalikkan telapak tangan. Tulisan ini hendak mengelaborasi beberapa pendekatan mengenai penerapan audit mutu internal dan sejauh mana peran unit tersebut mampu meningkatkan mutu pendidikan.

Audit mutu internal sangat diperlukan mengingat unit ini berperan dalam mencatat, merekam proses belajar malalui dokumentasi dan bukti-bukti audit. Audit mutu internal bertujuan meningkatkan mutu secara internal untuk menigkatkan mutu dan kualitas pendidian secara berkelanjutan. 

System penjaminan mutu internal di dalam pedoman menjelaskan bahwa sistem penjaminan mutu internal pendidikan dasar  dan menengah (SPMI-Dikdasmen, 2016) adalah satu kesatuan unsur yang terdiri dari atas organisasi, kebijakan, dan proses yang terkait untuk melakukan pembangunan yang dilaksanakan oleh sistem pendidikan dasar dan menegah untuk mewujudkan pendidikan bermutu yang memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan. 

Penerapan standar mutu di tingkat sekolah dasar dan menengah memang menjadi suatu kebutuhan. Hasil pemetaan pemerintah menunjukkan bahwa hanya 16 persen satuan pendidikan yang memenuhi satuan standar pendidikan (SNP). Yang paling memiriskan lagi ada satuan pendidikan yang tidak melakukan standar minimal layanan mutu pendidikan.

Lemahnya standar layanan mutu di sekolah bukan karena sifat abai namun bisa saja ketersediaan sumber daya, pengetahuan tentang system pelayanan mutu di sekolah. ada beberapa indikator yang diperlukan di sekolah dalam mencapai standar layanan mutu antara lain cara penilaian hasil belajar, cara membuat perencanaan peningkatan mutu pendidikan, cara implementasi peningkatan mutu pendidikan, cara melakukan evaluasi pengelolaan sekolah maupun proses pembelajaran. 

Indicator-indikator ini akan terlaksana dengan baik jika penyelenggara pendidikan memiliki kapasitas dalam melaksanakan audit mutu. Dan audit mutu internal sangat dibutuhkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi di sekolah.

Prinsip Dasar Audit Internal Mutu
Ada bebapa prinsip dasar dalam sistem penjaminan mutu internal (SPMI) antara lain adalah mandiri, terstandar, akurat, sistemki dan keberlanjutan, holistic, dan terdokumentasi.

Prinsip kemandirian mengandung arti bahwa SPMI dikembangkan secara mandiri. Terstandar berarti SPMI menggunakan standar nasional pendidikan (SNP). Akurat artinya setiap informasi dan data yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan. Sistemik dan berkelanjutan adalah SPMI mengimplemenasikan lima langkah penjaminan mutu yaitu pemetaan mutu, penyusunan rencana peningkatan mutu, pelaksanaan pemenuhan mutu, audiet/evaluasi pemenuhan mutu, dan penetapan standar yang berkelanjutan. Holistic adalah SPMI dilaksanakan meliputi organisasi, kebijakan, dan proses-proses yang terkait. Terdokumentasi, bahwa aktivitas SPMI terdokumentasi dengan baik dalam dokumen-dokumen. 

Lima prinsip dasar dalam pelaksaaan penjaminan mutu internal di sekolah akan terlaksanan dengan baik jika budaya mutu dikembangkan. Dalam pedoman mutu kemendikbud dengan gambling menyebutkan bahwa factor penentu keberhasilan penyelenggara pendidikan dalam mencapai pendidikan yang bermutu di sekolah antara lain adanya budaya mutu, kepemimpinan kepala sekolah yang efektif, partisipasi pemangku kepentingan, komitmen dan konsistensi pemangku kepentingan, akuntabilitas, transparansi, dan integritas. 

Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) adalah upaya menciptakan budaya mutu penyelenggara pendidikan. Budaya mutu akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh pemangku kepentingan mengutamakan prinsip-prinsip pelaksanaan penjaminan mutu dari tahap pelaksanaan hingga tahap evaluasi dengan menjalankan kepemimpinan yang baik, komitmen, dan integritas penyelenggara pendidikan. 

Bersama kepala sekolah dan guru bersama menciptakan budaya mutu di sekolah penerapan SPMI diharapkan dapat mencipatakan kualitas pendidikan yang bermutu atau setidak memenuhi unsure minimal stadar kualitas pelayanan pendidikan sehingga kualitas pendidikan di tingkat dasar dan menengah dapat meningkat secara kuantitas dan kualitas.

Pembenahan system pendidikan di Indonesia perlu dilakukan secara internal memperkuat kelembagaan internal diantar penyelenggara pendidikan. Dengan prinsip kepemimpinan, akuntabilitas dan integritas secara perlahan budaya mutu akan tercipta dan pada akhirnya melahirkan budaya mutu.

Merawat Tradisi Memanah Ikan di Pulau Buton

April 02, 2018 0
Merawat Tradisi Memanah Ikan di Pulau Buton
Senjata Panah lengkap dengan anak panah (Dokumentasi Pribadi)
Dari mana ikan segar bisa dicicip tanpa dipancing? Jawabnya bisa didapat dari sebuah desa di Buton. Salah satunya Desa Barangka Kecamatan Kapontori Buton Sulawesi Tenggara.

*

Anak muda yang masih paruh baya di desa itu baru saja menata ikan karang segar di atas bale-bale bambu. Sebut saja, Kakap merah, Baronang, Ikan Putih dan berbagai jenis yang masih asing di telinga saya. 

Saya mengamit seekor Kakap yang dibakar dengan api sedang. Masing-masing orang mendapatkan satu porsi besar ikan segar yang baru saja diambil dari laut yang tidak jauh dari rumah penduduk. Ikan-ikan itu tidak dengan cara dipancing atau di potas (meracun ikan) namun dengan cara dipanah. Saya tidak sendiri malam itu, sekelompok anak muda kreatif di desa yang asal muasal mete itu menemani kami tim peneliti dari UMK. 

Setelah kegiatan wawancara dengan masyarakat setempat selesai. kami disuguhi makanan segar ala masyarakat pantai. Ikan karang hasil panah.

Ikan panahan itu berjenis kualitas nomor satu. Segar dan sehat. Orang di desa tersebut menyebut baru “mati satu kali” untuk menggantikan istilah ikan segar yang baru saja ditangkap. Betul sekali, ikan itu masih menggelepar di ujung anak panah ketika diangkat. 

Tradisi memanah ikan di desa Buton masih dihidupkan hingga kini. cara ini masih bertahan dari berbagai ancaman pemburu ikan yang menangkap dengan cara tidak ramah lingkungan: membom atau meracun. Tradisi memanah ikan itu masih hidup di desa-desa salah satunya Desa Barangka.

Di Barangka, sebuah desa di Pulau Buton cara menangkap secara tradisional itu dilestarikan dari generasi ke generasi. Dari  anak-anak hingga orang tua, memanah ikan menjadi kesenangan bagi masyarakat setempat. 

Memanah Malam Hari

Ternyata, memanah ikan tidak semudah yang saya pikir, butuh keahlian khusus untuk bias menaklukkan ikan yang gesit. Tapi penduduk setempat tahu cara menaklukkan ikan. Bermodal panah dan busur, kaca mata renang dan senter kedap air, mereka berburu ikan.

Berburu ikan dilakukan di malam hari dengan alasan, ikan lebih banyak berdiam di tempat gelap. Karena itu, berburu ikan dilakukan saat malam hari. Selepas magrib, penduduk setempat bersiap melaut dengan membawa 'senjata' panah. 

Tidak butuh waktu lama, penduduk yang kebanyakan nelayan tradisional itu mengumpulkan ikan di atas perahu kecil. Tanpa menunggu lama, penduduk bergegas pulang untuk mengolah ikan segar itu.

Mengolahnya cukup sederhana, di bakar diatas api sedang, sambalnya dari tomat segar, Lombok, garam dan perasan jeruk nipis. Orang Buton menyebutnya dengan sambal Colo-colo. Sederhana tapi sehat. 

Ikan Bakar plus Colo-colo (Dokumentasi pribadi)
Melihat ikan bakar segar dan sambal colo-colo, perut saya merespon dengan bunyi “kriuk-kriuk” pertanda keroncongan. Sebuah sinyal untuk cepat diisi. Takut maag saya kambuh, tanpa babibu saya mencomot ikan hasil panah tersebut. Hmmm, nyaman, terasa daging ikan yang seperti manis dan legit bercampur asam asin di mulut. Pecah. Selang beberapa menit, ikan berisi daging segar itu tinggal tulang. 

Di akhir makan malam itu, bunyi kecipak air laut membentur-bentur pasak rumah panggung penduduk menjadi pelengkap saya selama perjalanan melakukan penelitian ekonomi kreatif di pedesaan Buton. 

Perjalanan ini indah…