Sunday, December 24, 2017

Perjalanan Saya Ke Wakatobi

Tepat di sore hari kami–Saya, Pak Marjani, Mumin, Arif, Edy–sebagai tim peneliti pulau-pulau kecil tiba di sebuah kepulauan yang tidak pernah dikenal hingga ke mancanegara sebelumnya. Setidaknya beberapa decade lalu.

Pulau yang saya maksud itu adalah Wakatobi, pulau yang namanya disingkat dari empat gugusan pulau besar Wangiwangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Dulu dikenal sebagai kepulauan Tukang Besi. Pasca otonomi, penyebutan Wakatobi lebih suka dilafalkan daripada menyebut pulau Tukang Besi.

Melalui pesawat jenis ATR, saya dan rombongan tiba di bandara Matohora yang berada di Pulau Wangi-wangi yang ber-ibukota-kan Wanci.

Kami tidak lama menunggu di Bandara, beberapa jepret foto bersama dengan latar plang nama ‘Bandara Matahora Wakatobi’ sudah cukup untuk dijadikan kenang-kenangan. Jemputan berjenis mini bus keluaran Toyota pun tiba menyambut kami dengan hangat. Mobil berjalan lambat meninggalkan bandara, jalan mulus beraspal, padang savana nampak kanan kiri jalan adalah teman perjalanan selama menuju ke pengingapan. “Rumputnya baru saja tumbuh, biasanya kering menguning” kata supir yang membawa kami ke penginapan.

Di pulau Wakatobi, kontur tanah pada umumnya adalah hamparan pantai berpasir putih, bukit kapur, savana dan tumbuha khas pantai: cemara dan kelapa. Di bagian ibu kota kabupaten, infrastruktur sudah sangat memadai untuk mendukung sektor pariwisata. Bukan rahasia, pulau ini terkenal dengan wisata bawah air maka pembangunan jalan dan bandara adalah prioritas.

Tak cukup 20 menit, tumpangan kami tiba di sebuah hotel kelas melati, Yusdin, ketua tim lapangan menyambut dengan ramah. Dia sebenarnya termasuk tim kami yang ditugaskan untuk memandu selama di Wakatobi. Nampaknya dia cepat membaur dengan masyarakat Wakatobi. Dia sudah seperti orang lokal Wakatobi.

Kami tidak perlu pusing-pusing mengurus akomodasi, Yusdin sudah mengatur semua kebutuhan tim di lapangan: makan, penginapan dan juga entertain.

*
Tak ada kata istirahat apalagi entertain di hari pertama dan ke dua sebab deadline presentasi dan laporan musti dirapikan sebelum seminar akhir. Ada yang sanggup berjam-jam di depan laptop mengetik laporan sedangkan saya mengetik diselingi dengan tidur beberapa menit. Berlama-lama di depan laptop membuat mata saya lelah.

Menit berganti jam, pagi berganti siang, waktu seminar hasil atau hari H presentasi sudah di depan mata. Saya sebagai bagian tim, tidak memiliki persiapan selain nekad. Untungnya, anggota tim peneliti, pak Marjani dengan senang hati bersedia membawakan presentasi. Dan amanlah saya.

Selang satu jam kami melewati presentasi dengan lancar. Tak ada sanggahan hanya beberapa poin rekomendasi dan perbaikan hasil penelitian. Saya hampir ‘pura-pura gila’ jika ada pertanyaan mengarah ke saya. Saya bukan orang Wakatobi, dan baru kali pertama datang dan tiba-tiba disuruh bercerita pengalaman selama kunjungan penelitian? saya tak sanggup. Untung, Allah maha baik, tak ada pertanyaan untuk saya, kalaupun ada saya sudah siapkan strategi untuk mengalihkan ke Pak Marjani, anggota tim peneliti kami. Dan semua aman. sekali lagi, kecemasan itu tak terjadi.

Waktu dinanti-nanti pun tiba. saatnya merayakan. Tim peneliti termasuk tim lapangan, Yusdin ketawa lepas. Ada raut bahagia di wajahnya, Yusdin tak bisa menyembunyikan rasa senang-nya seminar akhir penelitian yang dikomandoinya usai. Tinggal laporan dan entertain. ah, lupa, juga argo peneliti 😀
**
Tidak banyak tempat yang bisa saya kunjungi selama di wangi-wangi, saya tidak menyebut Wakatobi karena hanya berkunjung ke satu pulau saja. Salah satu staf ASN di Wanci berkata pada saya ‘jangan mendaku berkunjung ke Wakatobi kalo cuma berkeliling di Wanci’ saya membalasnya dengan senyum. Tanda tidak terima sepenuhnya atas pernyatannya.

Saya sudah menikmati Wanci toh juga menikmati Wakatobi tanpa harus berkunjung ke Kaledupa, Tomia dan Binongko (suatu saat semoga ketiga pulau itu terlalui).

Saya bermaksud membeli oleh-oleh untuk teman-teman namun keterbatasan informasi, pusat jajanan-juga dana maka dokumentasi mungkin bisa mewakilinya. Silahkan dinikmati ala kadarnya.


Parende, makanan berkuah kuning khas daerah kepualuan di Sulawesi Tenggara

Kami dan DM (kedua dari kanan)

Share:

Wednesday, November 15, 2017

Poster PDP


Lama tak menyentuh aplikasi desain grafis akhirnya terlunaskan di sore hari di Kampus. Berkutat selama beberapa bulan melakukan penelitian Dosen Pemula Hibah Kompetitif Nasional dari Ristekdikti, membuat saya tidak belajar beberapa hal termasuk memperdalam desain grafis. 

Kali ini saya mencoba memakai Adobe Illustrator. Saya sangat terbantu dengan program ini karena kemudahan toolsnya. Selain Adobe Photoshope, Corel, program ini termasuk mudah untuk pemula seperti saya. tidak ribet. 

Untuk melengkapi ilustrasi, atau memilih ide simple tanpa perlu banyak mikir saya mengunjungi situs template gratis: Freepik. Format gambar bisa vector, psd atau jpeg. Di dalamnya beribu bahkan mungkin jutaan ide desain tersaji di website ini. Dan satu hal, mereka menyediakannya gratis. 

Saya mencoba dan akhirnya jadilah seperti ini. abrakadabra...


Share:

Tuesday, October 10, 2017

Bertandang Ke Hutan Kota UNHAS

Hari masih pagi ketika saya bersama keluarga inti (Saya, istri dan anak) menghabiskan waktu di kampus almamater, Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar Sulawesi Selatan. Sebagai alumni, kami satu suara mengajak anak melihat tempat kami menimba ilmu. Tidak saja untuk beromantika tetapi melihat perubahan dan inovasi di kampus itu. Saya alumni Sosiologi FISIP, istri saya di Fakultas Pertanian. Kami merasa tidak afdhol rasanya jika tak menyempatkan waktu berkeliling kampus. Tempat kami menempa kualitas diri.

**
Ada yang baru. Sebuah hutan (pendidikan). Dulu, dulu sekali kampus itu juga ditumbuhi pepohonan. Namun sayangnya tidak tertata. Sekarang sudah jauh berbeda. Jauh sekali. Penataan sangat nampak di kiri kanan kampus. Unhas nampaknya telah berlari kencang mengejar ketertinggalan dari kampus-kampus pulau Jawa. Tidak hanya sibuk dengan pembangunan fisik dan pengajaran namun estetika kampus juga ikut ditingkatkan. 

Saya takjub dengan salah satu elemen kampus itu: taman kota atau hutan kota yang berada di dalam kampus tertata dengan indah. Maklum, di tengah maraknya konversi lahan/hutan, pimpinan kampus ini memikirkan bagaimana menghadirkan keteduhan dan ketenangan diantara bisingnya kendaraan kota dan acuhnya warga kotanya Makassar. Saya percaya, ini adalah salah satu kampus terindah di Indonesia.   

Hutan ini, secara langsung atau tidak, telah menjadi tempat ‘terapi’ bagi warga kota Makassar yang penat dengan tumpukan tugas pekerjaan dan lingkungan kota yang serba organis dan penuh penuh polusi. 

Membaca media cetak lokal, Fajar menyoal tentang masyarakat kota yang dihantui dengan depresi. tidak tanggung-tanggung koran itu menempatkan isu tersebut sebagai headline tiga hari berturut-turut. Saya membaca opini seorang dokter muda di koran itu, bahwa tingkat depresi di Sulawesi Selatan sangat tinggi dengan mengutip hasil riset tahun 2012 bahwa sebanyak 533.721 Orang di Sulawesi Selatan mengalami depresi. 

Ini menandakan bahwa depresi membutuhkan jalan keluar. Berbelanja di mall bukanlah salah satu cara menenangkan diri (bagi yang punya uang mungkin iya, tapi bagaimana yang tidak memiliki?), 

Hematnya adalah berkunjung ke alam terbuka (hutan, danau dan gunung). Selain dapat menghirup udara segar pengunjung tak perlu membayar alias gratis. Toh, kita tetap bisa ber-swafoto.

Saya percaya, menghabiskan waktu di alam bisa menjadi obat terbaik menghilangkan stres yang ujungnya menjadi depresi. 

Dan salah satu spot terbaik menghilangkan stres itu adalah hutan kota Unhas.

Terbukti, saban hari, dari remaja hingga orang tua. Tak lelah menghabiskan waktu di hutan kota itu. Ada yang ber-swafoto, ada juga yang berkemompok melakukan senam sore. Unhas sebagai oase. Menghadirkan keteduhan dan kesejukan di antara gedung-gedung tinggi. Pimpinan Unhas menyadari itu sebagai bagian dari tri dharma. Pimpinannya juga cerdas memikirkan strategi pemasaran, Unhas membangun citra bahwa dengan berubah menjadi BLU tidak lantas fasilitas dinomor-tiga-kan, kualitas pendidikan seiring sejalan dengan peningkatan fasilitas pendukung. 

UNHAS berusaha mengatakan, BLU adalah jalan untuk berubah menjadi kampus berkualitas, berwawasan lingkungan dan terdepan dalam pelayanan pendidikan.

Segala elemen dipermak sedemikian rupa menghadirkan UNHAS BARU dan mengikis opini negatif tentang BLU yang serba mahal. Taman Kota/hutan kota sebagai ornamen kampus adalah cara meningkatkan citra positif kampus itu. dan tidak ada yang salah, kampus-kampus terkenal di pulau Jawa melakukan hal yang sama. Pendidikan adalah bisnis yang prospektif.

**
Akhirnya, berlama-lama di hutan kota Unhas membuat kami lupa menjejali tempat-tempat ‘bersejarah’ ketika kami masih aktif kuliah dulu. Saya ingat, sebagai napak tilas saya selalu berawal dari RAMSIS, FISIP, FKI BEM FISIP, HMI FISIP, Kemasos (Himpunan mahasiswa Sosiologi) EBS Unhas, Lapangan Bola, dan Pintu II (sekarang tidak seru, tidak ada kedai baca dan kedai Sarabba’). Sedangkan istri saya, memulainya di Telkomas, Pertanian, lalu…(selebihnya tidak tahu karena kami memang tidak pernah sebelumnya bertemu di kampus, konon katanya kembang Fakultas Pertanian. konon).

Kami bertemu setelah menjadi alumni. Ya, nasib adalah kesunyian masing-masing kata Chairil Anwar. Nasib pula yang membawa kami bernostalgia di kampus rindang ini. 


Anak Kami Zahra Sedang Memberi Pakan Rusa Totol di Penangkaran Unhas

Jalan Setapak Hutan Kota Unhas (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Hutan Kota Spot Bagus Untuk Pengambilan Gambar

Jalan Setapak Hutan Kota Unhas (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Swafoto di Hutan Kota Unhas (


Share:

Wednesday, August 23, 2017

Mengabdi Sampai Jauh

Menjadi Dosen memang dituntut pengabdian. Selain mengajar, tugas tambahan seorang pengajar di kampus adalah meneliti dan melakukan pengabdian masyarakat. Ketiga tugas akademik itu diberi nama Tri Dharma.

**
Salah satu kebaikan itu saya emban sekarang ini. Melakukan pengabdian kepada masyarakat. Saya diamanahkan sebagai Dosen pendamping lapangan mahasiswa KKN di kampus (di kampus saya, Unismuh Kendari menyebutnya Kuliah Kerja Amaliah, KKA). 

Setelah beberapa hari pembekalan, akhirnya rombongan Kuliah Kerja diberangkatkan ke Kabupaten Kolaka Timur. Arahnya menuju kabupaten yang baru beberapa tahun mekar. 

Saya menumpang kendaraan milik kolega di kampus. Sesampai di lokasi kami memutuskan untuk berpisah sesuai dengan lokasi penempatan masing-masing. Kami dibagi beberapa lokasi/desa yang tersebar di di Kabupaten Kolaka Timur. Saya kemudian mengumpulkan anak-anak mahasiswa bimbingan saya menuju lokasi selepas diterima oleh pejabat setempat.

Hari semakin sore, mobil yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Mobil pick-up bermerek Suzuki dengan ban yang sudah diganti jenis radial, jenis ban yang cocok untuk arena off-road. Kami pun bergegas menuju lokasi penempatan di salah satu rumah Pak Dusun. Wunggoloko nama desanya. Tempat itu berada di Kecamatan Ladongi dimana sumber daya alam seperti beras, sayur-mayur dan juga rempah-rempah tumbuh melimpah. Desa yang kami tuju itu berjarak 9 km dari ibukota kecamatan. Dengan jalan seperti kubangan. Bisa dibayangkan semenarik apa perjalanan kami. 

Dan memang perjalanan memang menarik. kiri kanan hanya hamparan sawah. Irigasi yang tak pernah kering dan burung-burung sawah yang tak henti melintas di atas sawah petani. 

Saya ingin berbicara panjang tapi urung. Cukup foto-foto dari HP mahasiswa bimbingan saya mewakili. Kepada mereka saya berucap terimakasih banyak atas semangat dan foto-fotonya:







Share:

Friday, July 14, 2017

Pesan

Kira-kira apa yang dirasakan ketika si-pengirim berkali-kali mengirim pesan namun tak sampai pada si-penerima? Marah, gundah, penasaran hingga benci dengan segala turunannya akan terjadi?

Si-pengirim mengirim pesan namun hanya numpang lewat. Dia hanya menunggu penuh harap kiranya ada balasan. Namun tak pernah ada notifikasi read atau centang apalagi dibaca seksama.

Berkali-kali pesan yang disampaikan lewat SMS atau Surat dan e-mail dan media lainnya tapi tak berbalas. 

Rachel Platten dalam lagunya 1000 ships menggambarkan menunggu balasan pesan seperti ini:
...So keep your eyes set on the horizon
On the line where blue meets blue
And I would let that silver lining
Where I know it'd find you soon

Lagunya ceria,menandakan sang biduan mencoba meyakinkan diri dan berjiwa besar bahwa Pesannya akan sampai sekalipun ribuan pesan terkirim. Ini hanya persoalan waktu.

Tentang pesan. Orang selalu mengandalkan sebagai media bertukar informasi melalui media online atau offline ketika wajah dan wajah tidak bertemu.

Google translator mengartikan pesan sebagai a verbal, written, or recorded communication sent to or left for a recipient who cannot be contacted directly. Sebuah ujaran, tulisan, atau rekaman komunikasi dikirim atau disimpan kepada si penerima yang tidak dilakukan secara langsung. Kamus online Dictionary.com menambahkannya dengan kata signal. a communication passed or sent by speech, in writing, by signals, etc.

Singkatnya, pesan itu termediasi, ada media sebagai pengatar. Entah, surat, suara dan ujaran yang terekam (pesan suara).

Rachel mengirim pesan bertubi-tubi:
Because I have sailed a 1000 ships to you
But my messages don't seem to make it through.
Itulah mengapa pesan selalu tersimpan, terekam, tercatat dalam surat dan rekaman. 

Mungkin ada yang pernah mengalami, Pesan yang terkirim tidak pernah dibalas atau malah tidak terbaca.Seperti Saya ketika mengirim email kepada Professor Universitas di luar negeri namun tidak penah ada balasan. ingin rasanya berkata: sakitnya tuh di sini (sambil menunjuk tembok :D). Ini soal waktu saja bukan?
Share: