Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Bandara

Saya baru saja tiba di bandara dengan beban satu tas punggung,  satu tas selempang, satu kardus. Yang terakhir ini musti dibagasikan.

Di sekeliling terlihat hilir mudik penumpang dengan bawaan masing-masing, ada yang membawa travel bag, tas kresek dunkin donat, kacamata diatas kepala dan aroma wangi dengan merek terkenal.

Ada juga penumpang lain hampir sama dengan saya dengan bawaan yang berjejal bersama tumpukan kardus dengan pakaian yang jauh dari kesan mewah.

*

Inilah realitas di bandara dengan beragam kelompok sosial ekonomi. Dulu ketika tiket pesawat harganya selangit maka hanya yang berduit saja yang bisa menikmatinya. Saya masih ingat di zaman kuliah harga tiket masih mahal pilihan paling rasional adalah menggunakan moda transportasi bis antar kota antar provinsi atau kapal pelni yang selalu sesak dan tidak terawat itu.

Tiket murah

Namun sejak maskapai penerbangan banting harga dengan tiket bak karcis nonton acara pasar malam maka orang berlombalomba untuk dapat menikmati burung besi ini.

Dengan slogan flying chip maskapai seakan memberikan jalan bahwa semua orang punya kesempatan sama untuk bisa terbang melihat awan putih dan lanskap di atas ketinggian ribuan kaki.

Seno Ajidarma melihat ini sebagai revolusi harga tiket pesawat yang telah mengubah konotasi terbang-orang naik pesawat tidak hanya dinikmati kaum berduit saja.

Dengan begitu kelas menengah ke bawah pun tergiur dan memanfaatkan kesempatan dan akhirnya meninggalkan kebiasaan lama: naik bis atau pelni. Akhirnya bus sekarang hanya untuk dijadikan pengangkut barang dan kapal pelni tinggal menyisakan hitungan jari dan menjadi besi tua.

Maka jangan heran kalo di bandara penumpang masih membawa kebiasaan lama: kardus dengan ikatan tali rafia, tumpukan barang lainnya. Ya seperti saya ini.

Dalam semua ini perubahan konotasi terbang adalah bagian dari ekonomi kebudayaan yang telah berubah dan komodifikasi atas produk barang dan jasa. Semua sama di mata ekonomi kebudayaan-yang penting bisa bayar.

---
Di Bandara Juanda Surabaya menuju Makassar 29 Januari 2014

Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Post a Comment