Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Menikah

    UNTUK ISTRI
    (Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Wanita)

    Pernikahan ataupun perkawinan,
    Membuka tabir rahasia,

    Suami yang menikahi kamu,
    Tidaklah semulia Muhammad,
    Tidaklah setakwa Ibrahim,
    Pun tidak setabah Ayub,
    Atau pun segagah Musa,
    apalagi setampan Yusuf

    Justeru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
    Yang punya cita-cita,
    Membangun keturunan yang soleh .......
    Pernikahan ataupun Perkawinan,
    Mengajar kita kewajiban bersama,

    Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
    suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,
    Suami bagaikan balita yang nakal, Kamu adalah penuntun
    kenakalannya,
    Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur
    singasananya,
    Seketika Suami menjadi bisa, Kamu lah penawar obatnya,
    Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah
    memperingatkannya..

    Pernikahan ataupun Perkawinan,
    Mengajarkan kita perlunya iman dan takwa,
    Untuk belajar meniti sabar dan redho,
    Karena memiliki suami yang tak segagah mana,Justru kamu akan tersentak dari alpa
    Kamu bukanlah Khadijah,
    yang begitu sempurna di dalam menjaga
    Pun bukanlah Hajar,
    yang begitu setia dalam sengsara
    Cuma wanita akhir zaman,
    Yang berusaha menjadi solehah.....
    Amin.

    UNTUK SUAMI
    (Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Laki-laki)

    Pernikahan atau perkawinan,
    Menyingkap tabir rahasia.

    Isteri yang kamu nikahi,
    Tidaklah semulia Khadijah,
    Tidaklah setaqwa Aisyah,
    Pun tidak setabah Fatimah.

    Justru Isteri hanyalah wanita akhir zaman,
    Yang punya cita-cita, Menjadi solehah...
    Pernikahan ataupun perkawinan,
    Mengajar kita kewajiban bersama.

    Isteri menjadi tanah, Kamu langit penaungnya,
    Isteri lading tanaman, Kamu pemagarnya,
    Isteri kiasan ternakan, Kamu gembalanya,
    Isteri adalah murid, Kamu mursyidnya,
    Isteri bagaikan anak kecil, Kamu tempat bermanjanya,
    Saat Isteri menjadi madu, Kamu teguklah sepuasnya,
    Seketika Isteri menjadi racun, Kamulah penawar
    bisanya,
    Seandainya Isteri tulang yang bengkok, berhatilah
    meluruskannya,

    Pernikahan ataupun perkawinan,
    Menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa,
    Untuk belajar meniti sabar dan ridha,
    Karena memiliki Isteri yang tak sehebat mana,
    Justeru kamu akan tersentak dari alpa,

    PunKamu bukanlah Rasulullah pun bukanlah Saidina Ali Karamaullahhuwajah,
    Cuma suami akhir zaman,
    Yang berusaha menjadi soleh.....
    Amin...

Saya mengutipnya di laman facebook kumpulan humor Gusdur .  humor ala Gusdur yang selalu renyah. Saya terhenti dibagian nasehat tentang menikah.

Beberapa hari yang lalu tepatnya Minggu malam tepat tanggal 10 Februari 2013 saya telah melamar seorang gadis peranakan Arab-Bugis bernama Andi Rugayyah Akhmad, saya dan beberapa orang di rumahnya lebih sering memanggil akrab dia Ti Non.

Syahdan, menjalani atau menghadapi ritus pernikahan bagi saya adalah sebuah enigma. Seperti misteri walaupun saya harus menghadapinya, que sera sera, qun faya qun, yang terjadi terjadilah.

Walaupun saya akan menghadapinya tapi saya ingin bercerita tentang sebuah pernikahan. Dari realita yang saya temui banyak kisah yang membuat saya merenung tentang pernikahan mulai dari perbedaan dan juga kasus yang menyertainya (perceraian, kekerasan dan lain-lain).

Analogi sebuah bahtera. Perkawinan pun harus siap diterpa gelombang kecil maupun besar. Beberapa teman yang telah menikah selalu berkata bahwa pernikahan selalu tidak mudah. Terlalu banyak perbedaan menyebabkan berujung pertengkaran. Bagi saya perbedaan adalah niscaya. Bukankah orang yang menikah lahir tidak sama? atau karena perbedaan membuat kita mencari persamaanya bukan? Jawaban ini memang kurang memuaskan bagi teman saya.

Saya hanya ingin mengatakan jika bertemu lagi pada teman itu bahwa menikah adalah sebuah proyek masa depan. Sebagai bahtera, pernikahan butuh nahkoda yang siap menerjang gelombang samudra. Ketika lengah, maka ia pasti karam.

Dari nasehat ala Gus Dur inilah saya ingin merenungkan kembali dalam mengambil keputusan mengarungi bahtera: Pernikahan.
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Post a Comment