Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Ingatan

tentang ingatan yang selalu paradoks...

Walter Benyamin pernah menulis,

“untuk sebuah peristiwa yang dialami, sifatnya terbatas, entah dengan alasan apapun, dan terbatas pada suatu bidang pengalaman saja. sedangkan untuk sebuah peristiwa yang diingat sifatnya tidak terbatas, karena alasan ingatan seperti itu hanyalah sebuah kunci untuk masuk ke segala hal yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa tersebut.”

Aforisma Benyamin itu saya kutip dari Allesandro Portelli dalam The Death of Luigi Trastulli and Other Stories. Dalam buku itu mengisahkan seorang buruh pabrik di sebuah kota industri di Italia, dia berumur 21 tahun saat meninggal dalam sebuah bentrok dengan polisi 17 Maret 1949 dalam sebuah unjuk rasa. Peristiwa itu kemudian membuat Trastulli merekonstruksi, menafsir peristiwa tersebut dalam sebuah catatan mengenai ingatan.

Peristiwa/kematian apapun itu, yang menjadi tragedi adalah penting. peristiwa-peristiwa pemboman sekutu di Hiroshima-Nagasaki, kamp ausmitch Nazi sampai tragedi pembantaian orang-orang yang dianggap PKI adalah sebuah ingatan dan imajinasi bersama yang mampu membangun sebuah kumpulan cerita dan konstruksi dari berbagai peristiwa/ingatan yang menjadi pilu juga menghidupkan kenangan.

Mengapa kita perlu ingatan? Mengapa orang membuat sesuatu untuk mengingat masa lalu? Apakah ingatan perlu diandalkan? Mengapa dan mengapa?. Sekelumit pertanyaan ini hadir dalam diskusi tentang INGATAN.

Pada dasarnya, setiap peristiwa memerlukan kronologis dan mekanisme ingatan menjadi penting. Arintya, peristiwa adalah merincikan detil setiap waktu yang berkesinambungan. Namun jika ingatan seorang penutur tak bisa merekonstruksi maka disini menjadi titik lemah dalam sebuha cerita yang berawal dari ingatan.

Memori dan sejarah telah berpisah setelah lama dan seolah-olah bersinonim dan berpadu. Kenyataanya berbeda, dalam sebuah makala dari teman yang mengambil studi sejarah UGM [tempatnya para begawan sejarah, seperti Sartono Kartidirjo, Kuntowijoyo, Umar Kayam dan lain-lain] memberi pemahaman kepada saya bahwa ingatan berbeda dengan sejarah;

Dalam makalah itu, memori/ingatan itu embodied (mewujud/menubuh) sedang sejarah itu embedded (melekat/menempel) apa artinya? Yang embodied, tidak mudah mengalami disembodied; yang embedded, relatif mudah mengalami disembedded.

Tapi sekarang sulit bagi saya untuk membedakan antara ingatan dan sejarah mengingat memori telah tersubordinasi denan sejarah. Memori adala sejarah itu sendiri. Tapi apakah iya? Untuk ini saya mengutip sebuah kisah dari lukisan anak-anak korban tragedi Poso seperti yang dilukiskan Aditjondro di sebuah pelatian beberapa waktu lalu:

"diantara pengungsi itu ada sejumlah besar anak-anak yang mengikuti Festival Anak Perdamaianyang kami...laksanakan pada tanggal 25-29 Oktober 2001 di Panggung Moriana, Kompleks Kantor Sinode GKST di Tentena, sekita dua bulan sebelum Deklarasi Malino untuk Poso. Tetapi tanpa diduga anak-anak ini, pada umumnya yang mereka gambar adalah orang yang memegang senjata, rumah tinggal dan rumah ibadah, orang yang dibunuh, dan lain sebainya. Ada anak dengan ungkapan yang polos bercerita bahwa rumahnya dibakar oleh orang yang beragama Islam dan agama Islam itu jahat”.

Memori anak-anak korban tragedi itu menjadi memori/ingatan yang juga menjadi sejarahnya yang paling kasat mata. ini seperti sebuah ungkapan memory today is already a history. Memori mereka adalah penanda ingatan masa lalu dalam tatap sejarah. Masa lalu anak-anak itu menjadi bagian yang bisa saja terpisah dari hidupnya dan bisa juga menyadi ingatan yang terus hadir dalam hidupnya. Mereka merawat ingatan sekaligus hendak untuk melupakan ingatan.

Ada hubungan yang paradoksal disini, yang pada mulanya memori dan sejara itu bersinonim yang kesemuanya mewujud dalam tradisi. Namun sulit bagi saya memisahkan dua entitas ini di zaman sekarang meliat waktu itu linear dan orang-orang telah teratomisasi yang membuat sejarah dan memori semakin memisahkan jalan. Tapi di makalah teman saya itu mengafirmasi itu tak sejarah yan menaklukkan memori/ingatan tidak sepenuhnya bisa berhasil karena memori bersifat ‘life’, ‘embodied’, yang ‘kaku’ sekaligus ‘fleksibel’. Sedangkan sejara sebagai ‘produk masa lalu’ rentan terhadap perubahan tergantung pada institusi yang menopangnya.

Disini pentingnya ingatan...

Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Post a Comment