Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Menara itu

PARA pemilik mimpi mengarahkan telunjuknya di ujung menara berhias bulan sabit dan bintang itu. diantara awan yang berarak mereka berikrar menuju negeri baru. Negeri 5 Menara. Tiang yang menjulang ke langit, tempat mereka menggantungkan cita-cita seakan menyerap habis cita-cita mereka (semesta mendukung). Alif dan kawan-kawannya memulai sebuah mimpi besar hari itu. mereka menamakannya sahibun menara, yang punya menara, pemilik cita-cita ke negeri yang jauh. Yang kelak terwujud.

Saya termasuk yang beruntung walau agak terlambat menyaksikan film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama itu. Yang sebelumnya membaca hanya sekali, itu pun karena hadiah dari seorang mahasiswi cerdas dan penggiat film (terimakasih Din).

Saya yang bukan kritikus film mencoba menikmati film itu dan sekali lagi mencoba membandingkan antara yang tertera di teks dengan tampilan sinematografi "Negeri Lima Menara" itu. pemahaman subjektif sebagai penikmat film, saya menemukan keterbatasan. Dan memang, film akan berhadapan dengan durasi yang berbeda dengan novel. Dan itu memang terasa. keterbatasan itu nampak pada gambaran ‘putusnya’ antara realitas yang dihadirkan dalam novel dan film, tidak terkecuali 5 Menara itu. namun ini agak berbeda dengan Laskar Pelangi yang hampir utuh menampilkan sosok tokoh, setting dan alur cerita. Dalam 5 Menara ada kesan ‘patah’ dari ceritanya.

Subjektifitas ini tentu saja sebagaimana ungkapan Arief Budiman—dalam menilai sebuah karya sastra unsur pengetahuan dan pengalaman apresian amat sangat menentukan. Dan tentu saya yang tidak memiliki latar dibidang sastra juga film sedikitpun bisa sangat dangkal memahami film 5 Menara. Maka yang ingin saya lakukan hanyalah menafisri dan mengampresiasi mimpi dari anak-anak muda dari pondok pesantren di Ponorogo itu.

5 Menara memang lebih cocok disebut film motivasi. Mereka, para pemimpi yang hampir setiap waktu menghabiskan saban hari belajar dan bermimpi menyusuri negeri-negeri yang jauh tempat semua orang menyimpan mimpinya. Berbekal atlas (peta) para pemimpi itu menandai diri kemana mereka setelah menghabiskan waktu di pondok dan menara dengan mantra ‘man jadah wa jadah’. Yang bersunggu-sungguh dia yang berhasil. Bermimpi tidak cukup tanpa ada kesungguhan, disinilah kerja. Dan manusia aktif, homo activa sebagaimana Arendt menyebutnya. Manusia pemimpi adalah manusia yang aktif, bekerja dan bersunggu-sungguh. Dan mereka adalah cerminan manusia pekerja itu.

Tapi saya amat sangat terkesan dengan kegigihan mereka, saya tak menyebut Alif, ato Baso saja tapi termasuk Dulmajid, Atang, Raja dan Said yang selalu berlindung di bawah menara Mesjid sambil memandang awan yang berarak.

akhirnya film itu membawa saya pada mimpi-mimpi yang belum habis-habis saya inggit. Sampai hari ini belum pupus mimpi untuk ke luar benua. Dan untuk saat ini, saya dibawa ke pulau Jawa, dan suatu nanti satu diantara lima menara itu akan saya jadikan latar foto. Semoga.
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Post a Comment