Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Jawaban untuk N

Segalanya ada padamu, di dalam dirimu
termasuk aku.
(Dee#Supernova#Keping 33)

Jawaban untuk N dan bukan hanya untuk N (jawaban atas prasanka)

Jika salah, maka saya yang paling bersalah. Jika maaf maka tak mungkin ada maaf lagi. Kesalahan saya limpahkan pada diri saya. Tapi pemberian maaf saya menyerahkannya padamu. Semua di dirimu.

Bukankah saya telah mencoba menelponmu? tapi tak ada jawab. Setelah itu, saya pun sadar diri bahwa telpon yang tidak terjawab saya anggap—maaf mungkin tak akan ada lagi dan tak akan pernah. Saya menyadari itu. saya tahu bahwa ke-kaku-an diri saya yang selalu disebut sok atau kampungan, saya menerimanya. Itulah kebenaran. Tak ada pembelaan.

Hanya sedikit tentang tulisan status, sentilan dan blog atau apalah itu musti dilihat secara kritis. Kritis disini bukan dilihat secara negatif. Namun dalam artian dilihat secara berimbang. Kelebihan dan kekurangannya.

Bagi seorang yang akrab dengan dunia tulis-menulis terlebih dengan dunia sastra. Maka tidak akan buru-buru menghakimi hanya dengan membaca teks atau status atau yang tersirat saja. Semua orang tahu bahwa teks bisa ditafsir. Namun jika menafsirkannya salah?. Ketika Roland Barthez berkata kematian pengarang akan diikuti kelahiran pembaca. Maka disitulah teks ditafsirkan oleh siapa saja. Semua orang beramai-ramai menafsir. Seenak udel orang menafsir. Maka yang terjadi adalah multi tafsir. Saya terima itu. Namun teks tidaklah utuh. Teks hanya simplifikasi realitas yang perlu didekonstruksi kata Derrida. Teks hanya permainan huruf yang perlu ‘dibongkar’.

Ada yang menarik dari peristiwa ini, kesadaran kritismu nampak, ternyata saat marah kau nampakkan itu. saya tahu kau sederhana, saya melihat caramu berpakaian. Nampaklah kesederhanaan itu ada walau kau bisa saja berlebihan dengan apa yang kau miliki, tapi kau tak menampakkan itu.

***
Saya tidak ahli atau mau sok menjadi ahli atau sotoy (saya suka istilah itu). Saya hanya pembelajar yang terus belajar. Karena bahaya, orang yang mendaku pemilik kebenaran apalagi merendahkan orang, adalah orang yang menihilkan orang lain. Tidak ada dalam diri saya seperti itu dan tak akan pernah ada. Termasuk prasangka seperti misal sopaholic, atau apalah. Merasa dan terlalu merasa menjadi orang yang disangkakan itu berbahaya. Saya tak pernah menilai dirimu. Tak ada juga yang perlu dinilai dari dirimu. Selain saya buka siapa-siapa. Memang tidak ada yang berlebihan dari dirimu dan lainnya. Saya bersyukur orang kaya seperti dirimu dan yang lainnya sederhana cara hidupnya. Mengapa ada prasangka seperti itu? seperti prasangkamu?. Jangan terlalu cepat merasa disangkakan. Saya tidak pernah menafsirmu. Untuk sekedar candaan dan bahan diskusi memang ia. Untuk diseriusi ke-sotoy-an itu. mungkin jangan. saya katakan jangan diseriusi dan memang tak ada yang musti diseriusi dalam hal ini.

Disayangkan, mungkin karena saya terlalu ilmiah (paling kasarnya sok ilmiah), seolah-olah dalam kuliah sehingga terlalu menjemukan. Tapi itulah diri saya. Banyak kekurangan. Tapi sedikit kebaikan juga saya miliki. Kebaikan walaupun sedikit tetap menjadi kebanggaan.

Persoalan yang harus saya pelajari banyak yaitu belajar memahami dan menghargai perempuan. menjadi PR besar saya. Sesuatu yang harus saya refleksikan dan belajar lebih banyak untuk mengenal jauh perempuan dan menghargainya.

Untuk N dan bukan hanya untuk N
Kubekukan kau dalam kenangan dan puisi.
Kau begitu berharga untuk dilupakan...
Namun siapa sangka ada perpisahan? Saya tidak menyukai kata itu. tapi kau lebih menyukainya. walaupun sekedar teman agak terasa beda perpisahan itu. Terlebih saya yang meninggalkan kesan tidak menyenangkan.

Mungkin jika ada yang melebihi dari kata “maaf” sudah saya lakukan. Saya malu terhadap sikap saya yang kaku dan kekanakan. Saya tidak menyebut diri angkuh namun saya kaku terhadap perempuan. sebelum saya mengenal dirimu dan lainnya. Saya memang kaku terhadap perempuan. ada rasa rikuh, kaku dan tak bisa berkata-kata jika bersama perempuan.

Tak ada yang mengira tragedi pertemanan ini. Walau jauh-jauh hari saya menduganya. Dan ternyata benar adanya. Ini akan menjadi sebuah cerita yang menyebalkan. Tapi itulah kisah. Que sera-sera. Yang terjadi, terjadilah. Saya biarkan semua terjadi.

Saya tidak bisa menjadi orang yang menyenangkan. Saya lebih suka bermain futsal atau membaca dan menulis dalam ruang sepi. Sesuatu yang menyebalkan. Saya tau itu. Saya tidak bisa romantis untuk urusan perempuan memang. Saya tahu ini akan menyebalkan. Tak mengapa. Romantis saya tampakkan hanya untuk istri saya kelak. Cukup dia saja dan anak-anak saya menampakkan keromantisan itu.

Saya menerima dengan cercaan, makian dan umpatan, sumpah serapah dan segala yang buruk yang pernah saya dengar. Dan baru kali ini saya dengar kata-kata seperti itu apalagi dia perempuan. tapi apakah harus segala sesuatu diselesaikan dengan kekerasan? membalasnya? Dalam hati saya menasehati. “Kau bukan banci. Yang kau hadapi perempuan bukan laki-laki”. apa gunanya saya banyak belajar kearifan dalam diri Gandhi yang menganjurkan Ahimsa/hidup tanpa kekerasan?—mengurutkan dada dan mencoba untuk tetap tenang. Saya harus siap dengan segala yang ada. Tuhanlah yang maha cinta.

Saya menyangkal semua yang kau katakan kepada saya “sok pintar” dan hal-hal yang melekat dalam kenegatifannya. Yang harus diingat, orang yang merasa selalu pintar adalah orang tidak tahu apa-apa. Dan saya takut akan hal itu. saya hanya pembelajar, tak ada niat menggurui (satu sifat yang saya buang jauh-jauh).

Dicerita yang lain, saya mengingat cerita Socrates di masa-masa penghukumannya. Diceritakan dalam Apologia. Socrates menghadapi 501 juri dewan kota Yunani waktu itu. betapa banyak juri, namun Socrates dengan kegigihannya dan kesabarannya membuat sebuah pembelaan yang mengagumkan di depan dewan juri itu—yang dengan pongah dan merasa benar rela menghakimi hanya karena berbeda dari apa yang diyakini sang filsuf. walaupun akhirnya, Socrates tidak mampu menghadapi hukuman mati.

kisah saya ini lain, dalam ruang dan waktu yang berbeda pula. saya menghadapi hanya dua juri, tapi serasa puluhan menghakimi saya.

Saya menghadapi beberapa orang yang menghujat saya. Saya hanya diam, ada sedikit apologi tanpa dendam dan juga harap dan kecewa. Saya menerima. Saya sudah tahu. Bahwa tulisan saya di blog, status di dunia maya atau di BBM (akhirnya sejak itu saya tak mengaktifkan BBM lagi skaligus hpx, untuk sementara waktu), dan sikap dan bicara saya akan ditafsirkan salah. Dan ternyata memang benar adanya. Sesuatu yang saya anggap itu keberhasilan. Dugaan saya sudah jauh-jauh hari. Kesalahan saya adalah menerapkan pada orang yang baru saya kenal. Sebuah kesalahan besar dalam hidup (semoga tak terulang). Bisa saja saya tidak mem-publish tulisan-tulisan, status, saya yang mungkin bernada ‘kritis’. Bisa saja saya menyimpannya untuk saya konsumsi sendiri. Tapi tidak. saya lebih suka seperti itu. Mengkritisi tulisan, status atau apapun itu harus dikritisi dengan tulisan pula. ingat!!! Tak ada melibatkan rasa marah dan dendam.

Seperti dalam debat ataupun diskusi. Di dalam ruang boleh saja kita adu argumen bahkan adu otot. Namun di luar kita sama. Kita sederajat. Kita saudara. Itu prinsip menghargai, dan itu paling adil menurut saya.

dan jawaban untuk N

Saya baru mengetahui, ternyata saya jaga image. Bahasa sederhana orang menyebutnya. J.A.I. M. Citra adalah sesuatu yang dijaga setiap orang. Saya menyadari, saya menjaga image. Tapi apa apa yang bisa saya andalkan? Ternyata tidak ada. Tidak ada yang saya andalkan apalagi dibanggakan. Kalopun ada saya hanya memiliki sedikit kebaikan (sesuatu yang membuat saya bangga sampai hari ini). Tapi masih saja menjaga image. Memiriskan karena saya semakin banyak belajar semakin tidak zuhud. Saya harus belajar banyak hal tentang ini.

Tapi sifat, adalah sesuatu yang bisa dirubah. Kedewasaan umur dan pengetahuan menjadi media untuk lebih baik lagi.

Saya menyukai puisi GIE yang dibacakan Nicholas Saputra itu. diantara kabut tipis menyeruak diantara pohon-pohon cemara di lembah pandalawangi.
Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu? [...]
Saya telah siap dengan keadaan ini, ada keberhasilan membuat sesuatu berubah seperti biasa. Akhirnya semua akan tampak biasa-biasa lagi. Walau meninggalkan kesan yang tidak mengenakkan. Saya harus meminta maaf, walau cara-cara seperti ini. Tapi itulah pilihan ketika berbeda. Selalu mengandung resiko. Lagipula dalam tidak memilih pun mengandung juga sebuah resiko.

Kita berbeda dalam segala hal kecuali mimpi mewujudkan taman baca...

--Di luar jendela kamar. Udara begitu sejuk. Suara hewan malam memenuhi ruang kosong. Makassar. 100911

Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Post a Comment