Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Kekagetan (beradaptasi) Budaya

Ada pengalaman lucu skaligus memalukan pagi ini (15/08/2011). peristiwa itu terjadi ketika saya mencoba untuk mengutak-atik yang bernama BBM. Namanya newbie dalam BBM-an, yang ada kemudian rasa penasaran yang berujung pada kesalahan memasang fitur yang tersedia. Naas terjadi kemudian, yang saya utak atik itu ternyata mengundang teman grup untuk ber-BBM-an. menundang untuk chating pagi buta--Anehnya adalah kejadian itu terjadi di pagi hari saat orang sedang sibuk-sibuknya bekerja (teman BBM-an kebanyakan orang kantoran). seribu pertanyaan sinis datang menghujam, its okey, i have to ready for unconditional situation, seperti pagi ini. pagi yang memalukan ini.

Apa yang dikatakan Alfin Toffler tentang cultural shock terjadi pada diri saya pagi ini. Kadang kebudayaan baru (sama sekali baru) membuat orang terkaget-kaget (akhirnya kagok) untuk menggunakannya. Ada jarak yang terjadi antara pengetahuan dan penggunaan salah satu fitur modern ini. Menggunakan teknologi tanpa pernah mengetahui cara penggunaan sebelumnya bisa menjadi sebuah masalah. Disini memang menjadi dilema itu.

Revolusi teknologi yang tidak diikuti dengan kemampuan pengetahuan/adaptasi teknologi bisa memberi masalah. Akhirnya banyak pertanyaan dari teman saya itu. ada yang bertanya “sapa yang add di grup chat ?” dan beragam pertanyaan lain yang membuat saya sendiri bingung skaligus malu. Apa yang harus saya lakukan ? meminta maaf mungkin salah satunya cara, tapi mengandung konsekuensi. 'Maaf saya' sebagai pemakluman namun dianggap pengganggu waktu kerja. Akhirnya saya membiarkan saya larut dalam malu sendiri. Toh itu akan hilang dengan sendirinya. (maaf untuk ketidaknyamanan bagi sahabat yang terganggu di pagi ini). really-really sorry for inconvenient.

Pengetahuan yang bersifat instrumental ini kemudian membuat saya harus berfikir kembali untuk menggunakannya dengan dampak akan dikatai ketinggalan jaman, dan segala embel-embel dibelakangnya. Saya sudah siap untuk itu. saya mencoba untuk ikut mengetahui dunia-dunia modern tapi ada saja gejolak untuk melawan diri saya (sudah berfikir untuk tidak menggunakan BB). Saya seharusnya hidup di kampung saja, menikmati aliran sungai, hijau persawahan dan angin yang menampar-nampar dari kaki gunung. Saya hanya ingin mengetahui, setelah itu keluar. If you feel you will know. Setelahnya ucapkan selamat tinggal modernitas. Sanggup ? entahlah...semua selalu pasang-surut.

"krisis akal budi diwujudkan dalam krisis individu....tema jaman ini adalah self-preservation, tapi sementara tiada lagi self (kedirian) untuk dipertahankan" Filsfuf Mahzab Frankfurt, Max Hokheimer yang dikutip Sindhunata dalam bukunya 'Dilema Usaha Manusia Rasional' mungkin menjadi gambaran saya pagi ini, saya sebagai diri telah mengalami krisis. krisi berbudaya dan berteknologi modern.

-----------

di pagi yang tidak bersahabat-150811



Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Post a Comment