Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Maaf

Mungkin karena maaf tak mengenal kata cukup, tak juga mengenal kata berhenti. maka maaf selalu menghiasi hari-hari manusia. Sejak dalam doa yang takzim terdapat selipan kata “maaf” ditambah embel “mohon”. Setiap orang salah selalu berkata “maaf” atau “maafkan saya”. Halnya runtinitas religius, maka maaf tak pernah habis tuk di hela. tak ada kata lagi selain kata itu. Maaf memiliki keterbatasan, Inilah mungkin keterbatasan sebuah kata (bahasa). Sehingga maaf tak bisa tergantikan lagi. Tak ada kata yang lain mengungkapkan rasa bersalah (guilty).

Manusia tak mampu menampung semua kebaikan dalam satu tubuh. Karena itu mustahil. Tak ayal berharap semua kebaikan di daku pada manusia yang daif seperti saya dan manusia lainnya. Jadi “maaf” dan “salah” adalah term yang saling menggantikan dalam diri manusia. Menarik membaca budayawan Radhar Panca Dahana tentang Saya Mohon Ampun. Ia membuka kesadaran pada manusia yang lemah ini bahwa mohon ampun adalah bahasa paling rendah yang biasa dipakai oleh hamba sahaya. Dia ada benarnya, bahwa kata “mohon” adalah kasta paling rendah dalam bahasa ungkapan bersalah dan meminta ampunan, seperti seorang hamba meminta maaf pada raja. Tak lepas dari kata itu “saya memohon ampun”. Saya pun memakai term dan embel-embel itu untuk mengungkapkan rasa bersalah pada setiap yang pernah saling menyakiti hati.

Ada yang bilang meminta maaf lebih gampang daripada memberi maaf. Tapi saya punya bahasa lain, meminta dan memberi tak semudah itu. Gampang-gampang susah. Ajahn Brahmavanso yang Bikhu juga pengarang dari Cerita Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya membunyikan bahwa ego adalah salah satu masalah dari cinta dan welas asih. Ego adalah musuh terbesar manusia untuk meminta dan memberi maaf. Hanya hati yang seluas samudera yang bisa melakukannya. Susah tapi tidak sesulit melakukannya.

Nietsche nampaknya penting untuk dikutip disini. :

...Jika ada sahabat yang menyalahimu, maka katakanlah : “ aku memaafkan apa yang telah kau lakukan kepada diriku, tapi bagaimana mungkin aku bisa memaafkan apa yang telah kau lakukan kepada diri kamu sendiri...???!!!”. demikianlah, semua cinta besar berkata ; sebab ia melampaui maaf dan belas kasihan...(Nietzsche – Sabda Zarathustra).

Penting berdamai dengan orang lain (meminta maaf) tapi juga penting berdamai dengan diri sendiri. Saya hanya manusia lemah yang tak mampu berdamai dengan diri saya sendiri, yang mudah merasa, cepat emosi dan marah yang meledak-ledak. Saya mencoba berdamai dan meminta dan berkata “mohon maaf pada diri saya dan dirimu” katakan, saya memaafkanmu sebelum kau meminta maaf. Jika ada kata lebih dari maaf, tentu sudah saya lakukan jauh-jauh hari.

Guilty, 21 April 2011


Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Post a Comment