Monday, March 14, 2011

Waktu


Waktu seperti halnya F.Budi Hardiman menjabarkan sebagai arus yang tidak bisa diulang. Waktu pun terus berjalan, tapi ada masa silam, hari ini dan masa depan. Yang nyata adalah waktu kini. Sekejap yang terlewati adalah kenangan, dan waktu berikutnya adalah misteri.

Selanjutnya Budi Hardiman menyusuri rentang waktu sebagai penghayatan atas kehidupan. Kerugian bisa saja menghinggapi manusia. Karena dalam hidup mengandung pilihan dimana dalam pilihan itu menyimpan konsekuensi-konsekuensi. Manusia rasional memiliki otonomi dalam pilihan itu.

Waktu memang tak memiliki nilai tawar dan tak bisa di tawar-tawar, waktu terus berjalan searah jam dengan hitungan menit, jam, bulan dan tahun. Semua akan terlewati dalam kehidupan ini. Mengisi waktu dengan kreatifitas salah satu ciri diri manusia modern. Rasionalisasi membuatnya terjadi. Jika konsep liberitarian dimasukkan disini, maka waktu adalah musuh terbesar dalam diri manusia. Siapa yang menyia-nyiakan waktu maka akan tergilas dengan manusia-manusia rasional lainnya. Semua memiliki peluang sama. Konsep ini memungkinkan persaingan dengan diri manusia lainnya. kontestasi atas manusia lainnya menjadi keharusan hidup. yang lemah akan tergusur dalam roda hidup manusia rasional.

Ada pepatah Arab bahwa , “Waktu itu laksana pedang, jika tidak kamu yang memotongnya, maka dia akan memenggalmu”. Waktu seolah-olah menjadi lonceng dan menjadi petanda dalam kehidupan. Memang, manusia seakan tak sanggup membilang berapa waktu yang digunakan untuk kegiatan bermanfaat, dan kegiatan yang tidak bermanfaat. Kompleksitas kehidupan memang telah meluruhkan dentang bandul di jam dinding. Pesona dunia yang penuh citra memberi pengaruh atas kesadaran dan ke-lupa-an manusia mengingat waktu, meminjam istilah Einstein, time is relative. Waktu adalah kerelatifan dalam manusia rasional.

Waktu yang memudar, seperti halnya cara mendefenisikannya. Hidup ini singkat maka waktupun menjadi sangat berarti untuk disiasiakan.

0 komentar: