Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Dedaunan Itu...

Hari ini berkunjung lagi di toko buku, tak jauh dari Malioboro. Satu buku tipis bertengger di rak langganan buku saya memancing mata. Sekilas melihat novel bertulis daun yang jatuh tidak akan marah pada angin, Tere Liye (maaf jika salah, karena keterbatasan penglihatan). Saya tak sempat membacanya, saya yakin dikesempatan lain akan memilikinya karena saya pencinta sastra yang harus membiasakan diri dengan novel dan istilah sastra, mengingat darinya kaya metafora dan kata-kata bersayap. saya sebenarnya tidak sabar untuk membaca novel itu, daun yang jatuh tidak akan marah pada angin. namun tidak dalam kondisi tepat untuk saat ini. Saya hanya berfikir bahwa isinya pun pasti bagus, sebagus judulnya (looking the cover).

Saya meninggalkan cerita dari buku itu, saya pun mengingat daun-daun yang selalu terhampar di halaman kampus dan kost saya tempat dimana daun-daun itu mengalunkan harmoni. Banyak orang tidak selalu memperhatikan hal kecil ini (daun yang jatuh dari tangkai), seperti daun yang jatuh perlahan diterpa angin atau sudah waktunya berpisah dari tangkai. Saya salah satu yang selalu sibuk melihat seremoni itu. Bayangkan daun yang jatuh perlahan yang diombang-ambingkan oleh angin. bisa memberi nuansa dan romansadan pelajaranb hidup?.

Kembali kedaun itu, saya membayangkan bagaimana lagu Ruang Rindu-Letto bisa tercipta. Saya hanya berasumsi mungkin saja melihat seremoni daun-daun yang jatuh dari tangkainya maka terciptalah lagu itu ,

“ di daun yang ikut mengalir lembut, terbawa sungai ke ujung mata...”

Saat menuju kampus, daun-daun bertebaran, entah malam hari angin begitu kencangnya membuat daun-daun jatuh dari tangkainya dengan paksa, ataukah daun itu tak sanggup lagi hinggap di dahan pohon besar itu. Tak jemu-jemu petugas kebersihan menyapu, meskipun tiap hari daun-daun selalu jatuh berhamburan ke tanah. Setiap hari begitu.

Daun-daun yang jatuh tak hanya coklat, pucat pasih, namun juga hijau muda. Saya pun mengerti bahwa angin punya kekuatan untuk mengombang-ambingkan dedaunan. Daun tak punya kuasa melawan terpaan, akhirnya tak sanggup untuk bertahan pada tangkai (tangkai pun tak punya daya menahannya pergi). Daun coklat dan pucat pasih pun terlalu renta untuk terus bertahan. Karena mikroba-mikroba sudah siap mengurainya untuk menyatu dengan tanah. Rantai kehidupan menjadi isyarat alam, semua seperti itu. Daun itu tidak selalu berlindung dibalik tangkai, namun ada saatnya menyatu dengan tanah.

Dedaunan itu kembali mengajarkan bagaimana berbagi dan bersabar dalam hidup. Sekali lagi mengulang judul novel itu, Daun yang jatuh tidak akan marah pada angin. saya akan memilikinya suatu saat nanti.

Jogja, 150211
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Post a Comment